Saturday, 24 February 2018

IMAM ALI ZAINAL ABIDIN

Sejarah 19 Juni 2017

 

 Beliau selalu membawa makanan secara sembunyi-sembunyi di malam hari untuk dibagikan kepada para fakir-miskin Madinah. Ketika beliau wafat, barulah orang-orang tahu bahwa selama ini yang selalu membagikan makanan kepada mereka adalah Imam Ali bin Husain al-Sajjad.

Kelahirannya

Nama beliau Ali. Julukannya yang paling masyhur adalah al-Sajjad dan Zainal Abidin.

Beliau dilahirkan di Madinah pada pertengahan bulan Jumadil Ula, tahun ke-38 Hijriah.1 Ayahnya adalah Imam Husain, penghulu para syuhada. Ibunya yang mulia bernama Syahrbanu.2

Akhlaknya

Salah seorang kerabatnya pernah mendatangi beliau di tengah kerumunan para sahabat beliau, lalu melontari beliau dengan kata-kata yang tak pantas, lalu beranjak pergi. Kemudian, Imam berkata kepada orang-orang yang ada di sekitar beliau, “Kalian telah dengar apa yang dikatakannya, sekarang kuingin kalian ikut denganku sebentar saja untuk mendengar jawabanku padanya.”

Mereka semua berkata, “Kami akan ikut bersama Anda; alangkah baiknya jika tadi kami yang menjawab kata-katanya.”

Imam bersama rombongan menuju rumah orang yang menyerang beliau dengan kata-kata yang tak pantas itu. Di jalan, Imam selalu mengulang-ulang bacaan ayat al-Quran dari surat Âli Imran yang menjelaskan sifat sebagian keadaan kaum mukminin, “Dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan orang (lain), dan sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan.”3

Mendengar Imam selalu mengulang ayat tersebut, para sahabat Imam pun mengerti kalau beliau tidak pergi untuk membalas perkataan orang yang menyerangnya, sebagaimana mereka sangkakan sebelumnya. Ketika mereka semua tiba di rumah orang itu, Imam memanggilnya dan berkata, “Katakan padanya kalau Ali bin Husain datang.”

Orang itu pun mengira kalau beliau akan membalas omongannya; dia keluar dengan keadaan siap tempur. Imam berkata kepadanya, “Saudaraku, kalau apa yang kau ucapkan itu memang benar-benar ada padaku, maka aku akan memohon ampun kepada Allah. Dan kalau apa yang kau ucapkan itu tak ada padaku, semoga Allah mengampuni (kesalahan)mu.”

Mendengar ucapan Imam, orang itu merasa malu dan menghampiri beliau, lalu mencium keningnya seraya berkata, “Sebenarnya apa yang kukatakan tadi tak ada pada dirimu. Justru semua yang kukatakan itu ada padaku.”4

Di Madinah, pernah ada seorang pelawak yang selalu membuat orang lain tertawa dengan tingkahnya. Dia sendiri berkata, “Aku tak akan pernah sanggup membuat Ali bin Husain tertawa.”

Suatu hari, Imam melintas di depan si pelawak itu. Dia pun langsung memulai senda-guraunya. Melihat itu, Imam bergegas pergi tanpa menghiraukannya! Kemudian, para sahabat beliau membawakan gurauan dan canda pelawak itu. Imam bertanya kepada mereka, “Sebenarnya siapa orang itu?”

Para sahabat berkata, “Dia seorang pelawak yang suka membuat orang tertawa.”

Imam berkata, “Katakan padanya, ‘Sesungguhnya bagi Allah hari di mana pada saat itu orang-orang yang suka melakukan perbuatan tak berarti akan merugi.’”5

Imam al-Sajjad pernah mendatangi rumah Zaid bin Usamah yang kala itu sedang sakaratul maut di atas tempat tidurnya. Imam duduk di dekat kepalanya, sementara Zaid menangis. Imam bertanya kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Zaid menjawab, “Yang membuatku menangis adalah uang sebesar lima belas ribu dinar yang masih menjadi tanggunganku.” Imam berkata, “Jangan menangis, biarlah aku yang menanggungnya dan kau terbebas dari tanggungan itu.” Dan hutang itu pun dilunasi, sebagaimana beliau janjikan.6

Beliau sering membagi-bagikan roti di malam hari secara sembunyi-sembunyi kepada para fakir-miskin Madinah dan selalu membantu mereka. Ketika beliau wafat, barulah mereka tahu kalau orang yang selama ini memberi mereka roti adalah Imam Ali bin Husain al-Sajjad. Sepeninggal beliau diketahui pula bahwa beliau telah menjamin kehidupan seratus keluarga miskin Madinah dan tak seorang pun mengetahui hal itu.7

Putra dari saudari (keponakan) beliau berkata, “Ibuku selalu berpesan padaku agar aku selalu menyertai pamanku, Ali bin Husain. Aku sama sekali tak pernah duduk di tempatnya, kecuali beranjak dari sisinya dengan kebaikan. Ada dua hal yang kuperoleh dari beliau. Pertama, rasa takutnya kepada Allah membuatku hanyut dalam perasaan yang sama. Kedua, ilmu pengetahuan.8

Imam Muhammad al-Baqir selalu berkata, “Berdirinya beliau (ayahnya, yaitu Imam al-Sajjad) dalam shalat, sama seperti berdirinya seorang hamba sahaya di depan raja yang agung. Seluruh anggota tubuhnya bergetar karena takut kepada Allah ‘Azza Wajalla, wajahnya memucat, dan beliau selalu melakukan shalatnya seperti shalat orang yang akan berpisah (meninggal) dan tak akan pernah dapat melakukan shalat lagi.”

Kedudukan Agung

Hisyam bin Abdul Malik masuk ke kota Mekah untuk menunaikan haji. Ketika hendak bertawaf, kerumunan orang menghalanginya mencium Hajar Aswad. Dia pun menepi hingga orang-orang selesai bertawaf. Ketika dia sedang duduk menunggu orang-orang selesai bertawaf, tiba-tiba Imam Zainal Abidin masuk ke Masjidil Haram dan bertawaf. Tatkala semua orang tahu bahwa orang yang baru saja masuk masjid adalah beliau, mereka pun membelah jalan untuk beliau. Maka beliau pun berjalan dengan tenang hingga mendekati Hajar Aswad, lalu memegangnya. Kejadian itu sangat memukul Hisyam. Saat itu, seorang lelaki dari Syam yang berada di sebelahnya menoleh ke arahnya dan berkata, “Siapakah sebenarnya orang yang diberi jalan oleh semua orang ini?”

Hisyam takut kalau dia memberitahu namanya, maka penduduk Syam akan condong dan bergabung bersama Imam al-Sajjad. Maka, dia pun berkata, “Aku tak mengenalnya.”

Kala itu, Farazdaq sang penyair yang merdeka dan terkenal itu berada di tempat kejadian. Dia berkata, “Kalau aku kenal siapa dia sebenarnya…” Dan dia pun melantunkan puisi panjang yang mengandung pujian terhadap Imam al-Sajjad.

Keindahan bait-bait syairnya membuat Hisyam tak berdaya, bagaikan binatang yang terluka. Dia pun memerintahkan agar Farazdaq dijebloskan ke dalam penjara.

Ketika berita itu sampai, Imam al-Sajjad mengirimkan uang dirham untuk diberikan kepadanya. Namun, dengan tulus uang itu dikembalikan oleh Farazdaq. Kemudian, dia melayangkan sepucuk surat yang isinya, “Saya tidak menggubah syair-syair itu kecuali hanya karena Allah dan dan rasul-Nya.”

Imam membenarkan ketulusannya (dalam menggubah syair-syair yang dilantunkannya). Beliau bersumpah kepadanya bahwa apa yang digubahnya diterima (oleh Allah) dan dia akan memperoleh pahala di akhirat. Untuk kedua kalinya, beliau mengirimkan uang untuknya seraya berkata (si utusan), “Katakan padanya, berbuat kebaikan adalah bagian dari perangai kami, Ahlul Bait, dan kami takkan mengambil kembali apa-apa yang telah kami berikan…” Maka, Farazdaq pun menerima pemberian beliau dengan senang hati.10

Imam Menyadarkan Kaum Muslimin

Tak diragukan, digiringnya keluarga besar Imam Ali dan Imam Husain ke Syam sebagai tawanan, telah membuat revolusi Imam Husain lebih cepat menggapai semua tujuannya. Seandainya dalam perjalanan ini mereka tak meriwayatkan kejadian-kejadian Karbala yang tragis itu kepada semua orang, sementara orang-orang tak menyaksikan kondisi mereka dari dekat, niscaya pembantaian Imam Husain takkan setenar ini dan Bani Umayyah serta Yazid takkan dianggap telah melakukan perbuatan keji seperti itu.

Berbeda dengan apa yang dibayangkan orang-orang yang hidup di era Ahlul Bait bahwa menjadi tawanan adalah sebuah kehinaan, keluarga Imam Husain selalu  mengungkapkan kemenangan mereka dan kehinaan para musuh, Yazid dan pembelanya.

Salah seorang yang masih hidup setelah tragedi (Karbala) dan meninggalkan pengaruh terbesar dalam menyadarkan manusia adalah Imam kita yang agung (Imam Zainal Abidin) dan bibinya yang mulia, Sayyidah Zainab al-Kubra.

Sakit (yang bekas-bekasnya masih tampak di tubuh beliau) dan kesedihan yang dideritanya pada hari-hari pembantaian ayah, saudara, dan para sahabatnya, tak mampu menghentikan beliau menjalankan semua kewajibannya; tak ada kesempatan sedikit pun yang dilaluinya, kecuali digunakan untuk menjelaskan kepada semua orang tentang segala hal yang telah terjadi.

Tatkala penduduk Kufah meratap dan menangis keras karena malu mendengar pidato Sayyidah Zainab as yang berapi-api, yang dilanjutkan dengan pidato saudarinya dan Fathimah al-Sughra, Imam mengisyaratkan kepada mereka untuk diam. Maka, mereka pun diam. Kemudian, Imam berdiri dan memanjatkan pujian kepada Allah serta bershalawat kepada Rasulullah saw.

Setelah itu, beliau berkata, “Wahai manusia… Akulah Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib. Akulah putra orang yang hartanya dirampas dan keluarganya ditawan. Akulah putra orang yang dibantai di sisi Sungai Eufrat dalam keadaan teraniaya, padahal dia (ayahku) tak membunuh siapapun dan tak mengambil hak siapapun. Wahai manusia, celakalah kalian! Bukankah kalian telah menulis surat kepada ayahku? Kalian undang beliau untuk datang ke Kufah, tetapi sesampainya di Kufah, malah kalian bunuh(nya). Wahai manusia, jawaban apa yang akan kalian berikan jika nanti kalian melihat (bertemu) Rasulullah saw di hari kiamat dan beliau bertanya kepada kalian, ‘Kalian telah membunuh dan tak menjaga Ahlul Baitku, sungguh kalian bukan tergolong di antara umatku.’?”

Mendengar kata-kata Imam, penduduk Kufah pun mulai kacau dan terbakar emosinya; mereka menangis dan saling mencaci, “Celakalah kalian, sementara kalian tidak menyadari(nya).”11

Beginilah cara Imam membangunkan kalbu-kalbu yang terlelap dalam tidurnya, menggambarkan kedahsyatan tragedi Karbala, dan memberikan pemahaman kepada penduduk Kufah tentang betapa besarnya perbuatan (buruk) yang telah mereka timpakan (terhadap ayahnya).

Keluarga Imam Husain akhirnya dibawa ke istana Ibnu Ziyad. Begitu melihat Imam Zainal Abidin, Ibnu Ziyad bertanya, “Siapa orang ini?”

Orang-orang menjawab, “Ali bin Husain.”

Dia bertanya kembali, “Bukankah Allah telah membunuh Ali?”

Imam Zainal Abidin berkata, “Aku pernah punya saudara bernama Ali; kini dia telah dibunuh oleh (seorang) manusia.”

Ibnu Ziyad berkata, “Yang membunuhnya Allah, bukan manusia.”

Imam berkata, “Allah yang mematikan jiwa-jiwa ketika (sudah tiba) kematiannya dan jiwa yang belum mati dalam tidurnya.”12

Ibnu Ziyad berkata, “Kau masih berani menyanggahku?”

Dengan sombong, dia memerintahkan anak buahnya untuk membunuh Imam. Seketika itu pula Sayyidah Zainab al-Kubra menghalangi jalannya seraya berkata, “Tak seorangpun yang kau sisakan dari keluarga kami. Kalau kau juga ingin menghabisinya, maka bunuhlah aku bersamanya.”

Imam Zainal Abidin berkata, “Janganlah bibi mengeluarkan sepatah kata pun kepadanya, biarlah aku saja yang berbicara kepadanya.”

Kemudian, Imam menoleh ke arah Ibnu Ziyad seraya berkata, “Hai Ibnu Ziyad! Apakah kau hendak mengancam dan menakut-nakutiku dengan kematian? Tidakkah kau tahu bahwa kematian bagi kami adalah hal biasa, dan syahadah adalah kemuliaan yang Allah anugrahkan kepada kami?”13

 


Di Syam

Para tawanan lalu dibawa menghadap Yazid bin Muawiyah di Syam. Mereka semua dibawa masuk ke istananya dengan diikat dalam satu tali. Dengan penuh keberanian dan kemuliaan, Imam menoleh ke arah Yazid dan berkata, “Bagaimana menurutmu, jika Rasulullah saw melihat kami dalam keadaan terikat dengan tali?”

Kata-kata beliau yang singkat dan padat itu pun memecah kerumunan hadirin dan membuat mereka menangis.14 

Seseorang meriwayatkan:

Ketika para tawanan keluarga Muhammad saw itu digiring masuk ke kota Syam, aku berada di tempat itu. Para tawanan ditempatkan di sebuah masjid yang berada di Pasar Syam. Salah seorang penduduk Syam yang telah lanjut usia mendatangi para tawanan itu dan berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah membinasakan kalian dan memadamkan api fitnah.”

Dia pun terus berceloteh dengan mengeluar-kan kata-kata kotor. Setelah dia selesai bicara, Imam Zainal Abidin berkata kepadanya, “Aku telah mendengar kata-katamu dan engkau pun telah menumpahkan semua kebencian dan dendam yang ada di hatimu padaku. Sekarang, dengarkanlah kata-kata dariku, sebagaimana aku telah mendengar (kata-kata) darimu.”

Orang tua itu berkata, “Katakanlah.”

Imam berkata, “Apakah engkau membaca al-Quran?”

Orang tua itu menjawab, “Aku membacanya.”

Imam bertanya, “Apakah engkau (pernah) membaca ayat: Qul lâ as-alukum ‘alaihi ajran illal mawaddata fil qurba (Katakanlah [hai Muhammad], aku tidak meminta upah kepada kalian atas risalah yang kubawa, melainkan kecintaan kepada keluarga[ku])?”15

Orang tua itu menjawab, “Aku pernah membacanya.”

Imam berkata, “Hai orang tua, kamilah yang dimaksud dengan al-Qurba (keluarga).”

Kemudian, beliau bertanya, “Apakah engkau pernah membaca ayat yang menyatakan: Âti dzal qurba haqqahu (berikanlah hak kepada sanak-keluarga)16?”

Orang tua itu menjawab, “Ya, aku pernah membacanya.”

Imam berkata, “Kamilah sanak-keluarga yang harus diberikan haknya sesuai dengan perintah Allah melalui lisan nabi-Nya.”

Orang tua itu bertanya, “Benarkah mereka itu adalah kalian?”

Imam menjawab, “Ya. Apakah engkau pernah membaca Ayat Khumus: Wa’lamu annama ghanimtum min syaiin fainna lillahi khumusahu walirrasuli walidzil qurba (dan ketahuilah bahwa apa yang kalian peroleh berupa harta rampasan itu, seperlimanya milik Allah, Rasul, dan sanak keluarga)17?”

Orang tua itu menjawab, “Ya, pernah.”

Imam berkata, “Kamilah sanak-keluarga itu. Apakah engkau pernah membaca Ayat Tathhir: Innama yuridullahu liyudzhiba ‘ankumur rijsa ahlal baiti wayuthahhirakum tathhiran  (Sesungguhnya Allah hanya ingin menyucikan segala noda dari kalian, Ahlul Bait, sesuci-sucinya)18?”

Kemudian, orang tua itu menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berkata, “Wahai Tuhanku, aku bertaubat pada-Mu…” Dia ucapkan kata-kata itu tiga kali. “Wahai Tuhanku, aku bertaubat pada-Mu dari membenci keluarga Rasul saw dan aku berlepas-diri pada-Mu dari orang-orang yang telah membunuh mereka. Aku sudah pernah membaca al-Quran sebelumnya, namun aku tak mengerti (maksudnya).”19  

Imam di Masjid Syam

Suatu hari, Yazid memerintahkan salah seorang oratornya untuk naik ke mimbar dan mencaci-maki Imam Ali dan putranya, Imam Husain. Si khathib pun naik ke mimbar dan mulai mencaci-maki Imam Ali dan Imam Husain dengan makian yang paling kotor dan memberikan sifat kepada keduanya dengan sifat yang paling buruk. Sebaliknya, dia menebar pujian kepada Yazid dan Muawiyah.

Imam Ali Zainal Abidin, yang ketika itu berada di antara para hadirin, berteriak, “Celakalah engkau! Engkau telah membeli kerelaan makhluk dengan murka Sang Khaliq; bersiap-siaplah masuk ke dalam neraka!”

Kemudian, beliau menoleh ke arah Yazid dan berkata, “Biarkan aku menaiki kayu ini, agar kubisa menyampaikan apa-apa yang diridhai Allah dan memperoleh pahala dari-Nya.”

Mulanya, Yazid menolak keinginan Imam, tetapi orang-orang lalu mendesaknya agar membiarkan beliau naik ke mimbar. Yazid pun berkata, “Kalau dia menaikinya, maka dia tidak akan turun kecuali (hingga) membongkar aibku dan aib keluarga besar Abu Sufyan.”

Mereka berkata kepada Yazid, “Sungguh, apa yang bisa dikatakannya?”

Yazid berkata, “Sesungguhnya dia adalah bagian dari Ahlul Bait yang tak bisa dipisahkan dari ilmu.”

Mendengar perkataan Yazid, orang-orang semakin mendesaknya agar memberi kesempatan kepada Imam untuk bicara. Akhirnya, Yazid pun menerima. Imam lalu naik ke mimbar dan memanjatkan pujian kepada Allah dan Rasulullah saw kemudian berkata, “Segala puji bagi Allah yang Mahalama lagi Kekal-abadi; Pertama Yang tak ada sesuatu apapun yang mengawali-Nya; Akhir Yang tak ada sesuatupun yang mengakhiri-Nya. Dialah Yang Mahaabadi setelah segala sesuatu sirna…”20

“Wahai manusia… Sesungguhnya Allah telah menganugrahkan kepada kami ilmu, kesabaran, kedermawanan, kefasihan berbicara, keberanian, dan kecintaan (kepada kami) di setiap sanubari orang yang beriman… Dari kamilah Rasulullah saw dan shiddiq-nya umat ini, yaitu Amirul Mukminin. Dari kami Ja’far al-Thayyar. Dari kami Hamzah, penghulu para syuhada. Dari kami al-Hasan dan al-Husain; dua putra Rasulullah saw. Dan dari kami (pula) al-Mahdi umat ini.”21

“…Akulah putra Mekah dan Mina. Akulah putra Zamzam dan Shafa. Akulah putra orang yang membawa Hajar Aswad dari ujung kain.22 Akulah putra sebaik-baik orang yang berihram, thawaf, haji, dan bersa’i. Akulah putra orang yang di-isra’-kan di malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha.23 Akulah putra orang yang menerima wahyu dari Allah. Akulah putra al-Husain, yang terbunuh di Karbala. Akulah putra al-Mushthafa. Akulah putra Fathimah al-Zahra. Akulah putra Khadijah al-Kubra. Akulah putra orang yang bergelimang darah.”24

Sementara Imam berpidato, semua orang memandanginya. Beliau menunjukkan keagungan keluarganya dan dalamnya arti syahadah ayahnya, Imam Husain, pada setiap kata yang digunakannya. Tak pelak, air mata pun bercucuran dan suara-suara tangisan pun tertahan dalam kerongkongan. Kemudian, suara yang tertahan itu pun terdengar di setiap sudut, sehingga Yazid pun marah besar dan memerintahkan muazin mengumandangkan azan dengan suara tinggi, agar orang-orang diam dan pidato Imam berhenti.

Ketika muazin berucap, “Allahu Akbar.” Dari atas mimbar, Imam berkata, “Allah Mahabesar dan Mahatinggi dari apa yang kutakutkan dan kuwaspadai.”

Muazin melanjutkan, “Asyhadu allâ ilâha illallâh.” Imam berkata, “Benar, aku bersaksi dengan segala kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Dia.”

Muazin berkata, “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah saw.” (Ketika itu, semua kepala tertunduk menatap bumi, merenungkan suara muazin dan jawaban Imam. Begitu nama Muhammad disebut, semua kepala terangkat dan tatapan mereka tertuju ke arah Imam, sementara mata mereka dibasahi airmata, seakan mereka melihat Rasulullah saw dalam diri Imam Ali Zainal Abidin). Maka, Imam pun mengangkat sorbannya seraya berteriak, “Hati-hatilah engkau dengan Muhammad ini, karena engkau telah mengotorinya… (si muazin terdiam, dikuti semua orang…Yazid menjadi bingung, wajahnya memucat, sementara Imam terus berpidato).

Imam menoleh ke arah Yazid dan berkata, “Hai Yazid! Apakah Muhammad ini kakekku atau kakekmu? Kalau kau katakan bahwa dia adalah kakekmu, maka semua orang tidak akan memercayaimu. Kalau kau katakan bahwa dia adalah kakekku, lantas mengapa kau bunuh ayahku, kau rampas hartanya, dan kau tawan keluarganya?!”

“…Hai Yazid, apakah kau masih percaya bahwa Muhammad itu adalah utusan Allah, dan kau masih shalat menghadap kiblat? Celaka kau, kelak kakek dan ayahku akan menjadi musuhmu di hari kiamat.”

Yazid langsung memerintahkan muazin untuk beriqamah. Perintah ini dikeluarkan pada saat semua orang mulai gelisah, dan sebagian dari mereka meninggalkan masjid.25

Dan sejarah sendiri memberitahu kita—sejarah adalah sebaik-baik pembicara—sejauh mana pengaruh ucapan-ucapan Imam dalam perjalanannya ini. Yazid mengembalikan Imam Sajjad  beserta seluruh Ahlul Baitnya ke Madinah dengan penuh penghormatan, padahal sebelumnya dia benar-benar berniat membunuhnya. Tak lama berselang, panji-panji revolusi menentang pemerintahan Umawi di Irak dan Hijaz mulai berkibar. Beribu-ribu manusia bangkit menuntut darah penghulu para syuhada, Imam Husain. Semua orang sepakat bahwa tertawannya keluarga Imam Husain yang mulia, pidato-pidato serta ucapan-ucapan yang mereka sampaikan kepada semua orang, khususnya pidato-pidato Imam Sajjad  yang bergema di kesempatan-kesempatan yang beku, adalah sebaik-baik penyempurna dan penyampai tujuan-tujuan yang diharapkan dari revolusi penghulu para syuhada, Imam Husain.

Imam yang Sakit

Kebanyakan dari kalangan Ahlusunnah menyebut Imam Keempat dengan sebutan Ali al-‘Alil (Ali yang Sakit). Tak jarang, mereka mengira bahwa beliau telah menghabiskan usianya dalam keadaan sakit. Oleh karena itu, sebagian dari mereka beranggapan bahwa Imam Zainal Abidin adalah orang yang berwajah pucat dan berjiwa lemah.

Namun realitasnya justru sebaliknya. Beliau menghabiskan usianya dalam keadaan sehat, tak kurang satu apapun dan tak pernah mengalami sakit kecuali dalam masa yang singkat, ketika di Karbala; pada saat-saat ketika ayahandanya dibantai. Saat itu, Allah masih menjauhkan beliau dari kematian dan mencegah tangan-tangan anak buah Yazid mencapai beliau, agar mata rantai imamah ini tidak terputus dan masa depan Islam tidak terjerembab dalam bahaya dengan kematiannya.

Berikut ini sebagian riwayat yang menyinggung tentang sakit beliau:

Syaikh Mufid meriwayatkan dalam kitab al-Irsyad bahwa Syimr bersama serombongan pasukan mendatangi kemah yang di dalamnya terdapat Ali bin Husain, yang ketika itu masih dalam keadaan sakit.26  

Penulis kitab Tadzkiratul Khawash menukil dalam kitabnya, “Mereka tak membunuh Ali bin Husain dikarenakan beliau sedang sakit.”27

Dalam kitab al-Thabaqat disebutkan, “Setelah Imam Husain syahid, Syimr mendatangi Ali bin Husain yang ketika itu dalam keadaan sakit. Kemudian, dia berkata kepada orang-orang di sekitarnya, ‘Bunuh dia.’ Seseorang di antara mereka berkata, ‘Mahasuci Allah! Apakah kita akan membunuh anak muda yang masih dalam keadaan sakit dan tidak turut dalam pertempuran?!’ Kemudian Umar bin Sa’ad datang menghampiri mereka seraya berkata, ‘Jangan kalian sentuh para wanita dan orang sakit ini.’”28

Sebagian periwayat menuliskan bahwa sakit yang beliau derita atau sisa-sisa sakit beliau masih tampak hingga saat beliau tiba di kota Kufah.29

Kemudian, setelah itu, sama sekali tak pernah ada riwayat yang menyebutkan bahwa beliau sakit, bahkan beberapa petunjuk yang ada di tangan kami mengindikasikan bahwa beliau selalu sehat dan jarang sakit, sama seperti para imam yang lain.30 Secara rutin, beliau selalu menjalankan kewajiban-kewajibannya sebagai imam.

Imam Sajjad  dan Para Penguasa di Masanya

Ada beberapa penguasa zalim di era kepemimpinan Imam Sajjad , di antaranya adalah Yazid bin Muawiah, Abdullah bin Zubair, Marwan bin Hakam, Abdul Malik bin Marwan, al-Walid bin Abdul Malik, yang masing-masing telah memimpin kaum muslimin untuk masa yang cukup lama. Berikut ini, akan kita sebutkan beberapa sisi kriminalitas mereka, agar kita mengetahui kondisi di masa itu.

Pada tahun ke-62 Hijriah dan setelah pembantaian Imam Husain, sekelompok penduduk Madinah pergi ke Syam dan menyaksikan sendiri dari dekat Yazid yang sedang minum arak dan bermain-main dengan anjing-anjingnya serta menghabiskan waktu malamnya di tempat-tempat pelacuran. Sekembalinya di Madinah, mereka menceritakan kepada semua orang apa yang telah mereka lihat. Dengan begitu, pembantaian Imam Husain telah membuat sedih penduduk Madinah. Maka, mereka pun mulai mengibarkan bendera revolusi.31

Mengetahui hal itu, Yazid mengutus bala tentara yang dipimpin seorang bejat, Muslim bin Uqbah, untuk membabat habis para penentangnya. Pasukan Yazid pun menyerang Madinah selama tiga hari, merampok semua rumah, menghalalkan darah (kaum muslimin), membunuh sepuluh ribu orang, dan tak segan melakukan tindakan paling buruk sekalipun.32  

Setelah kematian Yazid pada tahun ke-64 Hijriah, kendali kekuasaan berada di tangan anaknya, Muawiyah. Namun, dalam tempo singkat–empat puluh hari atau tiga bulan—ia naik ke atas mimbar dan mengumumkan pengunduran dirinya dari tampuk kekuasaan.33

Sejak lama, Abdullah bin Zubair sangat menghausi kepemimpinan. Maka, dengan kematian Muawiyah, putra Yazid, dia pun mengumumkan revolusi dan mendapat sambutan dari penduduk Hijaz, Yaman, Irak, dan Khurasan. Kemudian, Marwan bin Hakam yang keinginannya untuk menjadi penguasa telah dilangkahi oleh Abdullah bin Zubair, bergerak menentangnya. Dengan berbagai tipudaya, dia mampu menundukkan dan memasukkan Syam dan Mesir di bawah kekuasannya. Ini terus berlangsung hingga dia mangkat. Kekuasaan kemudian beralih ke tangan anaknya, Abdul Malik.34

Abdul Malik bin Marwan menguasai tampuk kepemimpinan pada tahun ke-65 Hijriah. Setelah pilar-pilar kekuasaannya menguat, dia mulai mengepung Abdullah bin Zubair di Mekah pada tahun ke-73 Hijriah, kemudian menangkap dan memerintahkan untuk membunuhnya.35

Abdul Malik bin Marwan adalah seorang lelaki yang berhati keras, kikir, dan zalim. Suatu hari, dia pernah berkata kepada Said bin Musayib, “Aku telah menjadi orang yang tidak suka pada kebaikan dan tidak benci pada keburukan.” Said berkata kepadanya, “Kalau begitu, hatimu telah mati.”

Dalam sebuah pidato yang disampaikannya setelah terbunuhnya Abdullah bin Zubair, dia berkata, “Tak seorang pun yang mengajakku pada ketakwaan melainkan kupenggal lehernya.”36

Di antara kejahatannya yang paling besar adalah mengangkat Hajjaj bin Yusuf sebagai wali kota Bashrah dan Kufah. Hajjaj sendiri adalah salah seorang anak buah Bani Umayyah yang paling sadis dan paling suka menumpahkan darah kaum muslimin. Dia sangat gemar membunuh dan berbuat zalim; sering menyiksa dan membunuh orang, khususnya syiah Ali. Ketika menjadi wali kota, dia telah membunuh hampir 120.000 (seratus dua puluh ribu) lelaki.37

Abdul Malik mengawasi Imam dengan sangat ketat dan mengerahkan segala upaya untuk bisa menaklukkan beliau. Dia mendengar berita pernikahan Imam Sajjad  dengan mantan hamba sahaya yang telah dimerdekakannya. Karena itu, dia melayangkan sepucuk surat kepada Imam Sajjad  yang di dalamnya menyuratkan hal berikut, “Telah sampai padaku berita pernikahanmu dengan budak wanitamu, padahal aku tahu ada banyak wanita Quraisy yang sepadan denganmu dari segi kehormatan. Dari mereka engkau bisa melahirkan anak. Namun, sepertinya engkau tak memperhatikan diri dan anakmu. Wassalam.”

Imam Sajjad  menjawab suratnya sebagai berikut, “Amma ba’du. Suratmu telah sampai padaku, yang isinya kau mencelaku karena aku menikahi budak wanitaku, dan engkau menyangka bahwa aku merasa terhormat dengan menikahi wanita-wanita Quraisy dan memperoleh keturunan darinya, dan sesungguhnya tiada kemuliaan yang mampu melebihi Rasulullah saw. Sebenarnya, budak wanitaku itu telah merdeka, sehingga Allah ‘Azza Wajalla memerintahkanku untuk memperoleh pahala-Nya dengan cara menikahinya. Dan barangsiapa yang bersih di dalam agama Allah, maka tiada satupun perintahnya yang tak dijalankan, karena sesungguhnya Allah telah mengangkat sesuatu yang rendah dengan Islam dan menyempurnakan sesuatu yang kurang.”38

Abdul Malik ingin melecehkan Imam Sajjad  dan memasukkan rasa takut ke dalam hati semua orang serta menghalangi segala bentuk aktivitas mereka. Oleh karena itu, dia mengutus anak buahnya untuk membawa Imam Sajjad  ke hadapannya secara paksa. Beliau dibawa dan dipulangkan kembali ke Madinah.39

Setelah Abdul Malik mangkat pada tahun ke-86 Hijriah, posisi kepemimpinan dijabat oleh anaknya yang bernama al-Walid. Inilah seorang zalim dan bertindak semena-mena. Berkenaan dengan siapa sebenarnya al-Walid, Jalaludin Suyuthi dalam sebuah tulisannya berkata, “Al-Walid adalah orang yang zalim dan bertindak semena-mena.”40     

Dalam pidato pertamanya di depan semua orang, dia berkata, “Siapasaja yang berani (melawan), akan kami bunuh, dan siapasaja yang diam, maka dia akan dibunuh oleh diamnya itu sendiri.”41

Al-Walid, seperti para pemimpin zalim lainnya, merasa takut kepada Imam Sajjad  dan ketenaran beliau di tengah-tengah masyarakat; cemas dengan agungnya kedudukan Imam. Dia selalu waspada agar jangan sampai ada orang yang cendrung kepada Imam dan mengancam pemerintahannya. Oleh sebab itu, dia tak sanggup menahan beban atas eksistensi Imam di tengah kaum muslimin, hingga akhirnya memperdaya Imam dengan racun sehingga gugur sebagai syahid.42

Dengan merenungkan kondisi-kondisi yang dilalui Imam Sajjad  di mana banyak sekali terjadi krisis sosial, aliran-aliran yang saling bertentangan, para penguasa yang zalim, tekanan yang sangat ketat, tidak adanya orang-orang yang setia, mencinta, dan rela berkorban demi beliau, menjadi jelaslah bagi kita bahwa tiada jalan lain yang dapat beliau tempuh kecuali perlawanan-pasif, dengan mendidik orang-orang yang mencintai beliau dan murid-murid yang tulus, serta menyebarkan ilmu dan akhlak.

Ketika beliau sedang berhaji, seseorang di antara mereka melihat beliau di sebuah jalan di Mekah dan berkata kepada beliau, “Anda lebih mementingkan haji daripada berjihad?”

Imam berkata, “Seandainya kami memiliki para pengikut yang rela berkorban, sudah pasti jihad itu lebih baik daripada (menunaikan) haji.”43

Abu Umar al-Nahdi meriwayatkan dari Imam al-Sajjad bahwa beliau berkata, “Kami hanya memiliki 20 (dua puluh) orang saja (yang setia kepada kami) di Mekah dan di Madinah.”44


Imam al-Sajjad dan Pendidikan Kaum Muslimin

Di antara kesibukan beliau setelah tragedi Karbala dan kepulangan beliau ke Madinah adalah menyebarkan hadis-hadis dan ilmu-ilmu Islam kepada beberapa orang kaum muslimin, sekaligus mendidik mereka.

Syaikh Thusi dalam Rijal-nya menyebutkan nama 72 (tujuh puluh dua) orang sahabat Imam al-Sajjad, atau orang yang meriwayatkan hadis dari beliau.45 Berikut ini kami sebutkan tiga nama di antaranya:

  1. Said bin Musayyib. Imam al-Sajjad sendiri pernah berkata tentang Said bin Musayyib bahwa dia adalah orang yang paling mengerti dan paham hadis di zamannya.46
  2. Abu Hamzah al-Tsumali. Imam Kedelapan Syiah–Imam Ali bin Musa al-Ridha—pernah berkata, “Abu Hamzah adalah Salman di zamannya.”47
  3. Said bin Jubair. Dialah orang yang banyak ilmunya, sampai-sampai dikatakan bahwa tiada orang di muka bumi ini yang tak butuh kepada ilmu Ibn Jubair.48

Suatu hari, dia ditangkap oleh anak buah Hajjaj dan dibawa menghadap kepadanya. Kemudian, Hajjaj berkata, “Engkau adalah Syaqi (orang yang sengsara) bin Kasir (pecah), bukan Said (orang yang bahagia) bin Jubair.”49

Said berkata, “Ibuku lebih tahu (alasannya) ketika memberiku nama Said.”

Hajjaj berkata, “Apa pendapatmu tentang Abu Bakar dan Umar; apakah mereka berada di surga ataukah di neraka?” (Dia ingin agar Said mengatakan sesuatu yang bisa dijadikan alasan untuk membunuhnya).

Said berkata, “Kalau aku sudah masuk surga dan sudah kulihat penghuninya, maka aku akan tahu siapa saja para penghuni surga itu, dan kalau aku masuk ke neraka dan kulihat penghuninya, barulah aku tahu siapa saja mereka.”

Hajjaj, “Apa pendapatmu tentang para khalifah?”

Said, “Aku bukanlah perwakilan mereka.”

Hajjaj, “Siapakah yang lebih kau sukai?”

Said, “Orang yang paling diridhai Allah.”

Hajjaj, “Siapakah khalifah yang paling diridhai Allah?”

Said, “Allah yang Mahatahu segala sesuatu yang terselubung dan rahasia.”50

Hajjaj, “Kenapa kau tak tertawa?”

Said, “Bagaimana orang yang tercipta dari tanah dan terkadang dibakar oleh api bisa tertawa?”

Hajjaj, “Kalau begitu, kenapa kami tertawa?”

Said, “Hati manusia tidaklah sama.”

Kemudian Hajjaj memerintahkan anak buahnya untuk mengambil berbagai macam perhiasan dan meletakkannya di hadapan Said.

Said berkata, “Kalau alasanmu menimbun semua perhiasan ini karena ia bisa menolongmu dari siksa kiamat, maka tidaklah mengapa. Tetapi kalau tidak, ketahuilah bahwa kiamat itu akan membuat ibu yang menyusui lupa kepada anak yang disusuinya. Tiada kebaikan dalam menimbun kekayaan kecuali yang benar-benar bersih.”

Kemudian Hajjaj memerintahkan anak buahnya untuk membawa alat-alat musik. Maka, Said pun menangis. Hajjaj berkata, “Kau ingin dibunuh dengan cara apa?”

Said, “Terserah kau, demi Allah, tiada para pembunuh yang membunuhku kecuali Allah akan membunuhmu dengan cara yang sama di hari kiamat.”

Hajjaj, “Apakah kau ingin aku memaafkanmu?”

Said, “Kalau memang ada maaf, maka ia berasal dari sisi Allah, dan aku takkan pernah meminta pengampunan darimu.”

Maka, Hajjaj pun memerintahkan agar Said dibunuh. Said membaca ayat, “Wajjahtu wajhiya lilladzi fatharas samawati wal ardha hanifan wama ana minal musyrikin.”51

Hajjaj berkata, “Palingkan wajahnya dari kiblat.”

Said membaca ayat, “Fa ainama tuwallu fatsamma fajhullahi.”52

Hajjaj berkata, “Tundukkan kepalanya ke tanah.”

Said berucap, “Minha khalaqnakum wafiha nu’idukum waminha nukhrijukum taratan ukhra.”53

Hajjaj berkata, “Penggal kepalanya.”

Said berucap, “Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu lasyarikalah wa anna Muhammadan abduhu wa rasuluh saw.”

Kemudian dia berdoa, “Ya Allah! Janganlah Kau beri dia kemampuan untuk menguasai siapapun setelahku.”

Tak lama kemudian, darah Said bin Jubair yang suci itu pun mengalir karena Hajjaj memerintahkan algojonya untuk memenggal kepalanya.54

Said bin Jubair adalah salah seorang sahabat dan syiah Imam al-Sajjad. Imam sendiri sering memujinya, dan tiada kesalahan yang dilakukannya sehingga dia harus dibunuh, melainkan kedekatannya dengan Imam.55

Shahifah Sajjadiyah

Jelaslah bahwa tujuan berdoa dan memohon pertolongan kepada Allah pada saat ditimpa berbagai problema dan kesulitan adalah dorongan fitrah. Oleh karena itu, kita menemukan seseorang yang ketika tangannya tak mampu menggapai sebab-sebab, dan semua jalan telah menjadi buntu, tanpa disadari, dia akan memohon pertolongan kepada kekuasaan Allah yang teramat agung dan rahmat-Nya yang teramat luas, yang dengan begitu dia akan memperoleh ketenangan di saat kesulitan hidup menerpanya, kegelisahannya akan berkurang, kerisauannya akan sirna, dan dia akan mampu menyelesaikan segala urusan dengan jiwa yang tenang.

Para pakar psikologi dan orang-orang yang ahli dalam olah-batin tahu bahwa doa adalah sebaik-baik penyembuh bagi ruh yang sakit dan penyegar bagi jiwa-jiwa yang telah dikuasai kejenuhan. Maka, dalam hal ini, doa berfungsi sebagai penenang segala penyakit batin dan mengurangi tekanan musibah.

Islam telah menginventarisasi perasaan fitrah ini, karena di dalamnya terkandung petunjuk, pengajaran, serta pendidikan bagi umat manusia. Oleh karena itu, para imam mengajarkan kepada para pengikut dan syiahnya berbagai macam doa, tawassul, dan munajat, yang di dalamnya terkandung banyak pengetahuan dan ideologi yang benar. Para imam juga menyadarkan mereka bahwa doa dapat menyembuhkan banyak penyakit dan keadan-keadaan yang rumit.

Dalam hal ini, salah seorang ulama dalam sebuah tulisannya menyebutkan, “Di antara khazanah Islam berupa ilmu dan pendidikan doa yang ditinggalkan oleh Rasulullah saw dan Ahlul Baitnya adalah masalah-masalah seputar tauhid dan ketuhanan, kenabian, imamah, undang-undang kepemimpinan, akhlak, hak-hak sipil, hukum, dan berbagai macam adab yang semuanya terangkum dalam doa-doa mereka. Bahkan bisa dikatakan bahwa wirid-wirid mereka saja mampu membentuk sebuah madrasah besar di bidang pengembangan pemikiran dan peningkatan (kemampuan) kaum muslimin dari segi mental dan sosial. Selama kaum muslimin belum mengenal ajaran-ajaran madrasah ini, niscaya mereka tidak akan pernah bisa mengenal kepribadian Islam secara mendetail.”

Dan di antara doa yang disadur dari para imam kita adalah Shahifah Sajjadiyah yang muncul kemilau bak mentari.

Salah seorang ulama besar Ahlussunnah (penulis kitab tafsir al-Jawahir) mengomentari Shahifah Sajjadiyah yang diperolehnya dari Hauzah Ilmiah, di Qum al-Muqaddasah, sebagai berikut, “Saya sudah terima kitab Anda dengan tangan penuh hormat. Sungguh ia tiada banding; di dalamnya terkandung berbagai ilmu pengetahuan dan hukum, yang semua itu tak dapat ditemukan di kitab-kitab selainnya. Adalah nasib buruk jika sampai sekarang kita tidak mengenal peninggalan berharga nan abadi, yang bersumber dari Nabi saw dan Ahlul Baitnya ini. Setiapkali mengkaji isinya, saya menarik kesimpulan bahwa untaian kata-katanya berada di atas kata-kata makhluk, di bawah firman Tuhan, dan benar-benar kitab yang mulia. Semoga Allah melimpahkan sebaik-baik pahala-Nya dan memberikan pertolongan serta taufiq-Nya kepada Anda atas hadiah yang telah Anda berikan (kepada saya).”56      

Untuk mengenal kitab mulia ini, berikut akan kami sebutkan daftar isi dari doa-doa yang terangkum di dalamnya, kemudian akan kami sajikan sebagian dari doa tersebut.

  1. Pujian kepada Allah ‘Azza Wajalla.
  2. Shalawat kepada Muhammad saw dan keluarganya as.
  3. Shalawat atas para pengemban ‘Arsy.
  4. Permohonan rahmat bagi mereka yang membenarkan para rasul.
  5. Doa beliau untuk dirinya.
  6. Doa beliau ketika pagi dan sore hari.
  7. Doa beliau saat menghadapi masalah-masalah penting.
  8. Doa beliau saat memohon perlindungan.
  9. Doa beliau saat mengungkapkan kerinduan.
  10. Doa beliau saat memohon perlindungan kepada Allah Swt.
  11. Doa beliau saat memohon kesudahan yang baik.
  12. Doa beliau ketika mengakui dosa.
  13. Doa beliau ketika memohon semua hajatnya dikabulkan.
  14. Doa beliau ketika berada dalam kegelapan.
  15. Doa beliau ketika sakit.
  16. Doa beliau ketika memohon maaf.
  17. Doa beliau ketika memohon perlindungan Allah dari kejahatan setan, kebencian, dan tipudayanya.
  18. Doa beliau dalam hal-hal yang dilarang.
  19. Doa beliau saat meminta turun hujan.
  20. Doa beliau seputar masalah-masalah akhlak yang mulia.
  21. Doa beliau ketika dibuat sedih oleh suatu persoalan.
  22. Doa beliau saat menghadapi sesuatu yang genting.
  23. Doa beliau untuk kesembuhan.
  24. Doa beliau untuk kedua orang tuanya.
  25. Doa beliau untuk putranya.
  26. Doa beliau untuk tetangga-tetangganya.
  27. Doa beliau untuk penduduk kota.
  28. Doa beliau untuk menakuti musuh.
  29. Doa beliau saat menghemat.
  30. Doa beliau saat memohon pertolongan (Allah) untuk melunasi hutang.
  31. Doa beliau saat bertaubat.
  32. Doa beliau saat shalat malam.
  33. Doa beliau saat istikharah.
  34. Doa beliau saat tertimpa musibah dan melakukan suatu tindakan dosa.
  35. Doa beliau tentang ridha pada ketentuan Allah.
  36. Doa beliau ketika mendengar suara petir.
  37. Doa beliau saat bersyukur.
  38. Doa beliau saat mengakui kesalahan.
  39. Doa beliau saat meminta maaf.
  40. Doa beliau ketika ingat mati.
  41. Doa beliau ketika memohon penjagaan.
  42. Doa beliu saat mengkhatamkan al-Quran.
  43. Doa beliau ketika melihat hilal.
  44. Doa beliau ketika memasuki bulan Ramadhan.
  45. Doa beliau ketika berpisah dengan bulan Ramadhan.
  46. Doa beliau ketika Idul Fitri, Idul Adha, dan Hari Jumat.
  47. Doa beliau saat di Arafah.
  48. Doa beliau saat Hari Raya Kurban dan Hari Jumat.
  49. Doa beliau untuk mencegah tipudaya musuh.
  50. Doa beliau saat takut.
  51. Doa beliau saat merendahkan diri di hadapan Allah.
  52. Doa beliau saat mengalami kesulitan terus-menerus.
  53. Doa beliau saat ber-tadzallul (merendahkan diri di hadapan Sang Khalik).
  54. Doa beliau saat memohon agar diselesaikan segala kesusahannya.

Shahifah Sajjadiyah telah banyak di-syarh-i (diberi penjelasan) dalam dua bahasa, Arab dan Parsi. Allamah Syaikh Agha Buzurg Tehrani menambahkan dalam kitab agungnya, al-Dzari’ah, tak kurang 70 (tujuh puluh) syarh. Di antara syarh yang sudah dicetak adalah milik Sayyid Ali Khan Kabir58 dan Mukhtasharah (ringkasan al-Riyadh). Saat ini, keduanya sudah dapat dibeli (di toko-toko kitab), sebagaimana ulama-ulama Syiah terdahulu juga pernah menerjemahkannya ke berbagai bahasa, namun hingga saat ini tak satu pun dari buku tersebut yang sudah dicetak.

Di tahun-tahun terakhir ini, sebagian ulama kontemporer telah menerjemahkannya ke dalam Bahasa Parsi, sebagian dari buku yang sudah dicetak itu adalah:

  1. Terjemahan Almarhum Syaikh Abul Hasan al-Sya’rani.
  2. Terjemahan Almarhum Syaikh Mahdi Ilahi Qamsyeh-i.
  3. Terjemahan Faidhul Islam.
  4. Terjemahan Jawad Fadhil.
  5. Terjemahan Shadr al-Balaghi.

Sebagian Doa Shahifah Sajjadiyah

Dalam doa kedelapan, Imam al-Sajjad berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung pada-Mu dari gejolak ketamakan, kerasnya amarah, dominasi hasud, lemahnya kesabaran, sedikitnya qana’ah, perangai yang mudah marah, tekanan syahwat, fanatisme yang telah mendarah daging, tunduk pada hawa nafsu, menentang petunjuk, kantuk kelalaian, melaksanakan (kewajiban) dengan berat, lebih mendahulukan kebatilan dari kebenaran, asyik melakukan dosa, meremehkan maksiat, menganggap besar ketaatan, sombong bersama orang-orang kaya dan menghina orang-orang tak mampu, buruk dalam memimpin orang-orang yang berada di bawah kuasa kami, tidak berterima kasih kepada orang yang berbuat-baik kepada kami, atau kami malah menolong orang zalim, merendahkan orang yang teraniaya, berhasrat pada sesuatu yang bukan milik kami, atau kami berbicara soal keilmuan tanpa fondasi ilmu.”

“Kami berlindung pada-Mu dari tipudaya seseorang dan merasa ujub (sombong) dengan amal perbuatan kami dan panjangnya harapan kami. Kami berlindung pada-Mu dari perangai buruk, menghina sesuatu yang remeh, setan yang akan menguasai kami, bencana yang akan menimpa kami, atau pemimpin yang akan menzalimi kami. Kami berlindung pada-Mu dari perbuatan berlebih-lebihan dan tak pernah merasa cukup. Kami berlindung pada-Mu dari makian musuh, butuh kepada orang-orang kaya, hidup dalam kesulitan, dan mati tanpa ada persiapan. Kami berlindung pada-Mu dari penyesalan yang paling agung, musibah yang besar, kesengsaraan yang paling terpuruk, buruknya tempat kembali, keterhalangan dari pahala, dan datangnya siksa, ya Allah! Haturkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya, dan lindungilah aku dari semua hal tersebut di atas dengan rahmat-Mu dan seluruh orang beriman, baik yang lelaki maupun perempuan dengan rahmat-Mu, wahai Zat Yang Mahakasih.”

Dalam Doa al-‘Isyrin, yang terkenal dengan nama Doa Makarim al-Akhlak, Imam al-Sajjad berkata, “Wahai Tuhanku, haturkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya, sampaikanlah imanku ke puncak kesempurnaan iman, jadikanlah keyakinanku sebaik-baik keyakinan, sudahilah niatku dengan sebaik-baik niat, dan perbuatanku dengan sebaik-baik perbuatan.”

“Wahai Tuhanku, bekalilah niatku dengan kasih-sayang-Mu, luruskanlah keyakinanku dengan apa yang ada di sisi-Mu, dan perbaikilah apa-apa yang perlu diperbaiki dariku dengan kuasa-Mu.”

“Wahai Tuhanku, haturkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya, dan cukupilah aku (dengan) apa-apa yang membuatku peduli padanya. Gunakanlah aku di jalan yang kelak akan Kau tanyakan padaku. Habiskanlah hari-hariku di jalan yang karena itu Kau ciptakan aku. Buatlah aku kaya, lapangkanlah rezeki-Mu untukku. Janganlah Kau buat aku terpesona dengan apa yang kulihat, muliakanlah aku, janganlah Kau uji aku dengan kesombongan, buatlah aku hanya menghamba pada-Mu. Janganlah Kau rusak ibadahku dengan kesombongan, alirkanlah kebaikan kepada manusia melalui tanganku dan janganlah Kau hapus kebaikan itu dengan menguranginya, anugrahkanlah padaku akhlak yang  mulia, dan jagalah aku dari kesombongan.”

“Wahai Tuhanku, haturkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya, janganlah Kau tinggikan derajatku di tengah-tengah manusia melainkan Kau rendahkan pula diriku di mataku, dan janganlah Kau kreasikan kemuliaan lahiriah untukku, melainkan Kau kreasikan pula untukku kehinaan batiniah di mataku.”

“Wahai Tuhanku, haturkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya, dan senangkanlah aku dengan petunjuk baik yang tak pernah aku gantikan dan jalan kebenaran yang aku takkan menyimpang darinya, niat lurus yang tidak pernah kuragukan. Panjangkanlah usiaku dalam kepatuhan pada-Mu. Apabila usiaku menjadi tempat persemaian bagi kejahatan setan, maka matikanlah aku sebelum ia mendahului murka-Mu padaku atau menguatnya amarah-Mu padaku.”

“Wahai Tuhanku, janganlah Kau biarkan satu sifat (dalam diriku) yang bisa membuatku dicela, melainkan Kau perbaiki, atau suatu aib yang bisa membuatku dicemooh, melainkan Kau perbaiki, atau perbuatan terpuji yang masih kurang dariku melainkan Kau sempurnakan.”

“Wahai Tuhanku, haturkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya, ubahlah kebencian para pembenciku menjadi kecintaan, kedengkian para lalim menjadi kecintaan, prasangka orang-orang baik menjadi keyakinan, permusuhan orang-orang hina menjadi kecintaan, kedurhakaan sanak-keluarga menjadi kebaikan, kehinaan keluarga dekat menjadi pertolongan, kecintaan para penjilat dapat memperbaiki murka, mereka yang tidak suka bergaul menjadi baik dalam pergaulan, pahitnya ketakutan kepada orang-orang lalim menjadi manisnya keamanan.”

“Wahai Tuhanku, haturkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya, jadikanlah aku tangan bagi orang yang menzalimiku, lisan bagi orang yang memusuhiku, dan kuku bagi orang yang membangkangku, dan anugrahkanlah padaku tipudaya bagi orang yang menipudayaku, kekuatan bagi orang yang menindasku, mendustakan orang yang mencaci-makiku, keselamatan bagi orang yang mengancamku, mudahkanlah aku untuk mematuhi dan mengikuti orang yang mengarahkanku ke jalan yang lurus.”   

“Wahai Tuhanku, haturkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya, agar aku bisa melawan orang yang menipuku dengan nasihat, membalas orang yang tak suka padaku dengan kebaikan, mengganjar orang yang kikir padaku dengan kedermawanan, membalas orang yang memutuskan tali silaturahim denganku, menentang orang yang mencibirku dengan mengingat kebaikannya, dan agar aku bisa mensyukuri kebaikan dan mengabaikan keburukan.”

“Wahai Tuhanku, haturkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya, hiasilah aku dengan hiasan orang-orang saleh, dan pakaikan padaku hiasan orang-orang bertakwa dalam menegakkan keadilan dan menahan amarah, memadamkan murka, bergabung dengan orang-orang yang berseteru, memberi solusi bagi dua pihak yang berselisih paham, menebar kearifan, menutupi aib, bersikap lemah-lembut, rendah-hati, sepak terjang yang baik, tenang, menentang dengan cara yang baik, bergegas menuju keutamaan, lebih mengutamakan orang lain dalam menggapai keutamaan, meninggalkan cemoohan, memberi anugrah kepada orang yang tak berhak mendapatkannya, berucap kebenaran meski sangat berat, memandang sedikit kebaikan meski ucapan dan perbuatanku banyak menebar kebaikan, memandang banyak keburukan meski ucapan dan perbuatanku sedikit dalam melakukan keburukan, sempurnakanlah hal-hal itu untukku dengan kelanggengan taat dan keharusan berjamaah, menolak ahli bid’ah, dan pengguna pendapat yang diciptakannya sendiri.

Risalah Hak-hak

Di antara peninggalan agung Imam al-Sajjad adalah risalah tentang hak-hak yang biasa dinukil oleh kalangan ulama Syiah dalam kitab-kitab mereka. Semua hak-hak itu telah dirangkum dalam kitab Tuhaful Uqul, al-Khishal, dan al-Amâli.

Berikut ini, kami akan menukil sebagian besar hak-hak tersebut:

Hak Allah. Adapun hak Allah yang paling besar adalah hendaknya engkau menyembah-Nya dan tak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Apabila engkau telah melakukan hal itu dengan ikhlas, niscaya Dia akan mencukupkan urusan dunia dan akhiratmu serta menjaga apa-apa yang kau sukai dari salah satu di antara dua urusan (dunia dan akhirat).

Hak jiwa. Adapun hak jiwa atasmu adalah hendaknya kau pergunakan ia untuk patuh kepada Allah ‘Azza Wajalla.

Hak lisan. Menghormatinya dari berkata-kata yang tidak pantas, membiasakannya dengan kebaikan, meninggalkan rasa ingin tahu yang tak bermanfaat, berbuat-baik kepada manusia, dan bertutur-kata yang baik dengan mereka.

Hak pendengaran. Membersihkannya dari men-dengar ghibah dan hal-hal yang tak boleh didengar.

Hak penglihatan. Hendaknya kau pejamkan ia dari hal-hal yang tak boleh kau lihat.

Hak tanganmu. Janganlah kau rentangkan ia kepada apa-apa yang tak dihalalkan untukmu.

Hak perutmu. Janganlah kau jadikan ia sebagai wadah barang haram dan jangan terlalu kenyang.

Hak kemaluanmu. Hendaknya kau jaga ia dari zina dan jangan sampai terlihat.

Hak shalat. Hendaknya kau tahu bahwa ia adalah perjalanan menuju Allah dan sebenarnya dengan itu engkau berdiri di hadapan Allah. Apabila engkau mengetahui hal itu, (sudah sepatutnya) engkau berdiri bak seorang hamba hina yang berharap, takut, khusyuk, mengagungkan Zat Yang berada di hadapannya dengan penuh thuma’ninah, kau terima ia (shalat) dengan sepenuh hatimu dan kau hargai ia dengan semua batasan dan hak-haknya.

Hak puasa. Hendaknya kau tahu bahwa ia adalah hijab yang diletakkan Allah di lisanmu, pendengaran, pandangan, perut, dan kemaluanmu untuk menutupimu dari api neraka, maka dari itu, apabila kau tinggalkan puasa, berarti telah kau robek tirai Allah.

Hak sedekah. Hendaknya kau tahu bahwa ia adalah simpananmu di sisi Tuhanmu, dan titipanmu yang tak perlu kepada para saksi dan kau lebih percaya menitipkan barangmu secara sembunyi-sembunyi ketimbang menitipkannya secara terang-terangan, dan kau tahu bahwa sedekah itu dapat menyelamatkanmu dari berbagai musibah dan penyakit di dunia, dan dari bahaya api neraka di akhirat.

Hak haji. Hendaknya kau tahu bahwa ia adalah perjalanan menuju Tuhanmu serta pelarian(mu) kepada-Nya dari dosa-dosamu, dan di dalam haji terdapat penerimaan taubatmu serta pelaksanaan kewajiban yang telah diwajibkan Allah atasmu.

Hak Kurban. Dengan itulah kau hanya berharap kepada Allah ‘Azza Wajalla dan tak berharap kepada makhluk-Nya, dan dengan berkurban pula kau berharap bisa memperoleh rahmat Allah dan keselamatan jiwamu pada hari di mana kau akan berjumpa dengan-Nya.

Hak guru. Mengagungkannya, menghormati majlisnya, mendengarkannya sebaik mungkin, merespon-nya, dan hendaknya tak kau tinggikan suaramu, dan hendaknya (pula) tak kau jawab seseorang yang bertanya kepadanya tentang suatu persoalan hingga dia sendiri yang menjawabnya. Jangan mengajak bicara siapapun dalam majlisnya, jangan mencibir siapapun di depannya. Hendaknya kau bela dia ketika ada yang menyebutnya dengan kejelekan di depanmu, hendaknya kau tutupi semua aibnya, dan kau tonjolkan sisi-sisi baiknya. Janganlah kau duduk dengan musuhnya dan jangan kau membenci orang yang disukainya. Apabila semua hal itu sudah kau lakukan, maka seluruh malaikat Allah akan bersaksi untukmu bahwa (engkau) telah menujunya dan mempelajari ilmunya hanya karena Allah semata, bukan karena manusia.

Adapun hak para penuntut ilmu (pelajar); hendaknya engkau tahu bahwa sesungguhnya alasan mengapa Allah ‘Azza Wajalla memberimu ilmu dan membukakan hikmah dari tempat simpanannya, hanyalah agar engkau menjadi pembimbing semua orang ke jalan yang lurus. Apabila pengajaranmu bagus dan tidak membuat mereka resah, niscaya Allah akan menambahkan karunia-Nya padamu. Tetapi apabila engkau mengajarkan ilmumu kepada orang lain atau kau putuskan harapan mereka ketika mereka ingin menuntut ilmu darimu, maka sungguh Allah berhak mencabut ilmumu beserta kemuliaannya dan (Dia) juga berhak menjatuhkan pamormu di mata semua orang.

Hak istri. Hendaknya kau tahu bahwa Allah telah menjadikannya ketenangan untukmu, agar kau tahu bahwa hal itu adalah nikmat dari Allah untukmu. Oleh karena itu, muliakanlah dia, bersikaplembutlah kepadanya meski hakmu atasnya lebih wajib, tetapi kau tetap wajib mengasihinya karena sebenarnya dia adalah tawananmu, kau berilah dia makanan dan pakaian. Dan apabila dia bodoh (tidak tahu), maafkanlah dia.

Hak ibumu. Hendaknya kau tahu bahwa dia telah mengandungmu di mana tak seorang pun yang mau mengandung orang lain. Dia berikan dari buah hatinya apasaja yang tak seorang pun mau memberikannya kepada orang lain. Dia menjagamu dengan seluruh anggota tubuhnya tanpa memedulikan dirinya yang sedang lapar asalkan kau makan. Dia rela kehausan asalkan kau bisa minum. Dia rela tak berpakaian asalkan kau berpakaian. Dia rela kepanasan asalkan kau dalam keteduhan. Dia rela tak tidur dalam suasana panas maupun dingin hanya karenamu dan waktumu. Dan sesungguhnya kau tak akan bisa berterima-kasih kepadanya kecuali dengan pertolongan dan taufik dari Allah.

Adapun hak ayahmu; hendaknya kau tahu bahwa dialah asalmu, dan tanpa dia, kau tak akan ada. Kelebihan apapun yang membuatmu bisa berbangga diri, sebenarnya ayahmulah asal kenikmatan yang ada padamu. Oleh karena itu, puji dan bersyukurlah kepada Allah atas kenikmatan yang diberikan-Nya padamu dan tiada daya dan upaya melainkan dari Allah.

Hak anakmu. Hendaknya kau tahu bahwa (dia) berasal darimu dan sesuatu yang ditambahkan padamu di dunia dengan kebaikan dan keburukannya. Dan sesungguhnya tanggung-jawabmu sebagai wali bagi anakmu adalah hendaknya kau ajari dia adab yang baik, membantunya mengenal dan mematuhi Tuhannya ‘Azza Wajalla. Perlakukanlah dia sebagaimana perlakuan orang yang tahu bahwa perbuatan baiknya akan berbuah pahala dan perbuatan buruknya akan mengakibatkan siksa.

Hak saudaramu. Hendaknya kau tahu bahwa dia adalah tangan dan kekuatanmu. Oleh karena itu, janganlah kau jadikan dia senjata untuk bermaksiat kepada Allah dan jangan pula kau jadikan dia sebagai alat untuk menzalimi makhluk Allah, tolonglah dia dalam mengalahkan musuhnya dan nasihatilah dia, kalau dia mau mau patuh kepada Allah. Kalau tidak, ketahuilah bahwa bagimu Allah jauh lebih mulia dari saudaramu dan tiada kekuatan kecuali dari Allah.

Hak orang yang berbuat baik padamu. Hendaknya kau berterima-kasih padanya, menyebut kebaikannya, mendoakannya dengan tulus antara engkau dengan Allah ‘Azza Wajalla. Apabila hal itu sudah kau lakukan, berarti kau telah berterima-kasih padanya secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, kemudian apabila suatu hari kau bisa membalas kebaikannya, maka balaslah kebaikannya.

Hak imam shalatmu. Hendaknya kau tahu bahwa dia telah memikul tanggung-jawab sebagai duta antara engkau dengan Tuhanmu ‘Azza Wajalla dan berbicara tentangmu, sementara kau tidak berbicara tentangnya. Dia berdoa untukmu, sementara kau tidak berboa untuknya. Dia mencukupimu dari bahayanya berdiri di hadapan Allah ‘Azza Wajalla. Seandainya dia tak sempurna dalam menjalankan tanggung-jawabnya, maka dia sendirilah yang akan memikul akibatnya, bukan engkau. Seandainya sempurna, maka kau pun turut serta dengannya. Dia tak lebih utama darimu sehingga dia harus menjaga dirimu dengan dirinya dan shalatmu dengan shalatnya. Maka dari itu, berterima-kasihlah kepadanya atas semua yang telah dilakukannya untukmu.

Hak teman-dudukmu. Bersikap lemah-lembutlah dengannya, sesuaikanlah pembicaraanmu dengan pembicaraannya. Janganlah kau beranjak dari tempat-mu kecuali atas seizinnya, dan siapasaja yang duduk di sampingmu boleh meninggalkan tempatnya tanpa seizinmu, kau lupakan kesalahan-kesalahannya, kau ingat kebaikan-kebaikannya, dan janganlah kau perdengarkan (kepada) dia kecuali kebaikan.

Hak tetanggamu.  Jagalah dia tatkala tak ada di tempat dan hormatilah dia ketika ada di tempat. Tolonglah dia apabila teraniaya, janganlah kau ikuti dia dalam keburukan. Apabila kau tahu keburukan darinya, tutupilah keburukannya. Kalau kau lihat dia mau menerima nasihatmu, maka nasihatilah dia hanya di antara kalian berdua saja. Janganlah kau biarkan dia dalam kesulitan, terimalah kesalahannya, ampunilah dosanya, dan jalinlah hubungan yang baik dengannya.

Hak sahabatmu. Bertemanlah dengannya secara baik dan jujur, hormatilah dia sebagaimana dia menghormatimu, janganlah kau biarkan dia sendiri dalam bergegas menuju kebajikan. Apabila dia mendahuluimu, maka susul dan inginkanlah dia sebagaimana dia menginginkanmu, cegahlah dia dari kemaksiatan yang ingin dilakukannya, jadilah rahmat baginya, bukan azab.

Hak mitra. Gantikanlah (tugasnya) ketika dia tak ada di tempat, perhatikan dia ketika ada di tempat, jangan mengambil keputusan sendiri tanpa keputusan darinya. Jangan bertindak dengan pendapatmu tanpa berdiskusi terlebih dahulu dengannya. Kau jagalah hartanya. Jangan mengkhianatinya, baik dalam urusan besar maupun kecil, karena sesungguhnya tangan Allah berada di atas dua orang partner selama mereka tak saling mengkhianati.

Hak hartamu. Janganlah kau ambil ia, kecuali dari tempat yang halal, dan janganlah kau infakkan ia, kecuali di jalan yang benar. Janganlah kau berikan hartamu kepada orang yang tak memujimu, keluarkanlah ia di jalan yang di dalamnya terkandung ketaatan kepada Tuhanmu. Janganlah kikir, karena kekikiran dalam kondisi lapang akan berbuah penyesalan.

Hak kreditur yang menagihmu. Seandainya kau berada dalam kondisi lapang, bayarlah dia, dan seandainya dalam kondisi sempit, buatlah dia rela dengan ucapan yang baik dan kau tolak dia dengan penolakan nan lembut.

Hak teman sepergaulan. Hendaknya jangan kau tipu dia dan bertakwalah kepada Allah dalam urusan ini.

Hak penuntutmu. Apabila apa yang disangkakan padamu itu benar, hendaknya kau bersaksi (atas kebenaran tuntutannya) dan jangan menzaliminya serta tunaikanlah haknya. Namun, apabila apa yang disangkakan itu tidak benar, sikapilah dengan lemah-lembut, dan janganlah bersikap selain lemah-lembut, dan (jangan pula) membuat marah Allah dalam urusan itu.

Adapun hak lawanmu yang kau tuntut; kalau apa yang kau dakwakan itu benar, maka gunakanlah kata-kata yang baik dan jangan kau ingkari haknya. Namun apabila apa yang kau dakwakan itu tidak benar, maka bertakwalah kepada Allah dan bertaubatlah kepada-Nya dan tinggalkanlah dakwaanmu.

Hak konsultan.  Kalau kau lihat pendapatnya baik, nasihatilah dia, tapi kalau kau lihat pendapatnya tidak baik, arahkanlah dia kepada orang yang tahu.  

Hak penasihatmu. Janganlah kau tuduh dia atas pendapatnya yang tak sejalan denganmu. Seandainya pendapatnya sama dengan pendapatmu, maka haturkanlah pujian kepada Allah ‘Azza Wajalla.

Hak penerima nasihat.  Hendaknya kau nasihati dia, dan metode yang kau terapkan adalah kasih-sayang dan lemah-lembut.

Hak pemberi nasihat.  Janganlah bersikap kasar, dengarkanlah pembicaraannya dengan seksama. Kalau apa yang disampaikannya padamu itu benar, maka pujilah Allah ‘Azza Wajalla. Tetapi apabila ternyata tidak sesuai dengan rahmat-Nya, maka janganlah menuduhnya.

Hak orang yang lebih tua.  Menghormatinya karena usianya, menghargainya karena sebelum engkau dia telah menjadi seorang muslim, tidak menanggapinya pada saat terjadi percekcokan dengannya, tidak berjalan mendahuluinya, dan tidak menganggapnya bodoh. Dan seandainya dia tidak mengenalmu, maka berilah berbagai kemungkinan dan tetaplah menghormatinya demi Islam dan kehormatannya.

Hak anak kecil.  Menyayanginya, mengajari, memaafkan, menutupi kesalahan, bersikap lembut, dan memberikan pertolongan kepadanya

Hak orang yang bertanya.  Memberikan jawaban sesuai dengan yang dibutuhkannya.

Hak orang yang ditanya.  Apabila dia menjawab, maka terimalah jawaban darinya dengan terima kasih dan sadar akan keilmuannya. Kalau tidak menjawab, maka terimalah alasannya.

Hak orang yang membuatmu senang karena Allah. Pertama yang harus kau lakukan adalah memuji Allah, kemudian berterima-kasih kepadanya.

Adapun hak orang yang berbuat jahat padamu; maafkanlah dia, dan seandainya kau tahu bahwa maaf takkan membuatnya baik, maka sesungguhnya engkau sudah menang. Allah berfirman: dan bagi orang yang menang setelah dizalimi, sesungguhnya tiada jalan lain bagi mereka.59

Hak orang-orang sebangsamu. Menyembunyikan keselamatan bagi mereka, mengasihi mereka, bersikap-baik kepada mereka yang berbuat jahat kepadamu, merangkul mereka, berusaha memperbaiki mereka, berterima-kasih kepada mereka yang berbuat bajik, tidak mengganggu mereka, menyukai apasaja yang mereka sukai sebagaimana dirimu menyukai sesuatu, dan tidak menyukai apasaja yang tidak mereka sukai sebagaimana dirimu tidak menyukai sesuatu. Dan hendaknya kedudukan orang-orang tua mereka sama seperti ayahmu, anak-anak mudanya sama seperti saudara-saudaramu, wanita-wanita tuanya sama seperti ibumu, dan anak-anak kecil mereka sama seperti anak-anakmu sendiri.

Hak orang-orang kafir yang tinggal di bawah naungan negara Islam (hak al-Dzimmah). Hendaknya kau terima mereka sebagaimana yang Allah terima dari mereka dan jangan menzalimi mereka selama mereka menepati janjinya kepada Allah ‘Azza Wajalla.

Menurut pendapat yang masyhur, Imam Zainal Abidin meninggal dunia pada tanggal 25, bulan Muharram, tahun ke-95 Hijriah.

Beliau meninggal dunia dalam usia mendekati 57 karena diracun oleh Hisyam bin Abdul Malik atas perintah seorang Umawi yang lalim—al-Walid bin Abdul Malik—setelah menjalani usia yang penuh dengan siksa, pertikaian, dan kesabaran.61 Makam beliau yang menjadi tempat ziarah orang-orang Syiah sedunia berada di pemakaman Baqi’, di sisi makam Imam Kedua, al-Hasan al-Mujtaba as.

Qashidah lengkap Farazdaq

  1. Wahai yang bertanya di manakah kedermawanan bersemayam?

       Kupunya jawaban bagi yang menghendakinya

  1. Inilah orang yang al-Bathha’ mengenali pijakannya

       Demikian pula Baitullah, al-Hill dan al-Haram

  1. Inilah putra sebaik-baik hamba Allah

       Inilah orang yang bertakwa, bersih dan suci

  1. Ahmad al-Mukhtar adalah ayahnya

       Tuhanku telah menetapkan untuk bershalawat padanya

  1. Jikalau al-Ruknu tahu siapakah yang datang menciumnya

       Niscaya semua orang akan datang menciuminya

  1. Ini adalah Ali yang ayahnya adalah Rasulullah saw

       Seluruh umat kan mendapat petunjuk di bawah cahaya petunjuknya

  1. Inilah orang yang pamannya (Ja’far) al-Thayyar dan Hamzah sang singa padang pasir
  2. Inilah putra penghulu para wanita, Fathimah

       Dan putra Sang Washi yang di dalam pedangnya terselubung rasa yang menyakitkan

  1. Pabila Quraisy melihatnya, pasti kan mengatakan,

       Seluruh kemuliaan akan tertuju pada orang ini

  1. Dia tumbuh di puncak kemuliaan

       Yang tak mampu dicapai oleh Arab dan Ajam (non-Arab)

  1. Dia memejam-mata karena malu sementara orang lain memejam-mata karena wibawanya

       Dia tak pernah bertutur-kata kecuali saat tersenyum

  1. Cahya wajahnya merobek kegelapan

       Bak mentari merobek kegelapan dengan sinarnya

  1. Dia tak pernah berkata, “Tidak,” kecuali dalam tasyahhud-nya

       Kalau bukan karena tasyahhud, sudah pasti “tidak”nya adalah “ya”

  1. Dia berasal dari Rasulullah

       Keturunan, perangai, dan budi-pekertinya yang baik

  1. Selalu memikul semua beban berat kaum ketika mereka tak mampu memikulnya

       Manis semua perangainya, di sisinya segala kenyamanan terasa manis

  1. Pabila berbicara, dia pilih pembicaraan yang disukai semua orang

       Tutur-katanya selalu menjadi bahan pertimbangan

  1. Inilah putra Fathimah kalau kau tak mengenalnya

       Kakeknya pamungkas para nabi Allah

  1. Sejak awal Allah telah memuliakannya

       Sebagaimana yang tertera di Lauh al-Mahfudh

  1. Keutamaan para nabi jauh berada di bawah (keutamaan) kakeknya

       Dan semua umat tak mampu menandingi keutamaan umatnya

  1. Dia tebar kebaikan ke semua orang

       Maka mereka pun terjauhkan dari kebodohan, kemiskinan, dan kegelapan

  1. Kedua tangannya tak pernah kosong dari pertolongan
  2. Bertabiat sederhana, tak ditakuti lirikannya

       Berhiaskan dua sifat; kesabaran dan kedermawanan

  1. Tak pernah ingkar janji, bertabiat terpuji

       Murah hati, mahir ketika mengupas masalah

  1. Berasal dari komunitas yang kecintaan kepada mereka adalah agama, dan kebencian kepada mereka adalah kekufuran, dan dekat dengan mereka adalah keselamatan
  2. Mencintai mereka dapat menolak keburukan dan musibah

       Menambah kebaikan dan nikmat

  1. Setelah nama Allah, nama merekalah yang disebut

       Di setiap pembuka dan penutup perkataan

  1. Pabila dihitung jumlah orang-orang yang bertakwa, maka merekalah para pemimpinnya

       Atau pabila ditanya, “Siapakah penghuni bumi yang terbaik?” Jawabannya adalah mereka.

  1. Takkan ada dermawan yang mampu menandingi kedermawanan mereka

       Seberapa pun suatu kaum berderma, takkan mampu menandingi mereka

  1. Mereka adalah hujan yang mengguyur pada saat krisis melanda

       Singa yang perkasa dan keberanian yang membara

  1. Kehinaan enggan berada pada mereka

       Tabiat yang mulia dan tangan-tangan yang selalu berembun

  1. Kesulitan tak pernah menggenggam kelapangan dari telapak tangan mereka

       Kedermawanan selalu menyertai mereka, baik dalam kondisi lapang maupun sempit

  1. Kabilah manakah yang tak berada di bawah lindungan mereka

       Apakah karena orang ini memang berhak diutamakan atau karena dia memiliki banyak kenyamanan

  1. Siapasaja yang ingin mengenal Allah, pertama-tama dia harus mengenalnya lebih dahulu

       Karena dari rumah orang inilah semua umat dapat mengerti agama

  1. Pada saat Quraisy kebingungan dalam memutuskan problema besar

       Mereka cari jalan keluarnya di rumah-rumah mereka

  1. Kakeknya berasal dari Quraisy

       Muhammad dan setelahnya, Ali

  1. Mereka semua tahu bahwa Badar menjadi saksi, begitu pula Syi’ib di Uhud

       Khandaq dan Yaumul Fath

  1. Khaibar dan Hunain pun turut bersaksi

       Bahwa di Quraidhah pernah ada hari yang kelam.

 

 

 

Catatan Akhir

  1. Masar al-Syiah, Syaikh Mufid, hal 34, cet. tahun 1315 H.
  2. al-Ushul Minal Kafi, jil. I, hal. 467, cet. al-Akhundi.
  3. Ali Imran: 134.
  4. al-Irsyad, Syaikh Mufid, hal 240, cet. al-Akhundi
  5. Amali, Syaikh Shaduq, hal. 133, cet. lama.
  6. al-Irsyad, Syaikh Mufid, hal. 243, cet. Akhundi.
  7. Tadzkiratul Khawash, Ibnul Jauzi, hal. 184, cet. Farhad Mirza.
  8. al-Irsyad, Syaikh Mufid, hal. 238, cet. Akhundi.
  9. al-Khishal, Syaikh Shaduq, hal. 517. cet. Ghiffari.
  10. Disadur dari Amali, Sayyid Murtadha, jil. I, hal. 69, cet. tahun 1387; syairnya berada di akhir buku ini.
  11. al-Ihtijaj, Thabarsi, hal. 166, cet. al-Najaf, tahun 1350 H.
  12. al-Zumar: 42.
  13. al-Luhuf, Ibn Thawus, hal 144, cet. tahun 1317 H.
  14. Tadzkiratul Khawash, hal. 149, cet. Farhad Mirza.
  15. al-Syura: 23.
  16. al-Isra’: 26.
  17. al-Anfal: 40.
  18. al-Ahzab: 33.
  19. al-Ihtijaj, Thabarsi, hal. 167, cet. al-Najaf, th. 1350 H.
  20. al-Kamil, Syaikh Bahai, jil. II, hal 300.
  21. Nafasul Mahmum, Muhadits al-Qomi, hal 284, al-Mathba’ah al-Islamiyah.
  22. Sebuah isyarat kepada peletakan Hajar Aswad dengan tangan Nabi saww sendiri, pada tahun ke-35 setelah tahun gajah.
  23. Isyarat kepada kisah Isra’ Mi’raj.
  24. al-Kamil, Bahai, jil. II, hal. 300.
  25. al-Kamil, Bahai, jil. II, hal 300-302 secara ringkas.
  26. al-Irsyad, Syaikh Mufid, hal 226.
  27. Tadzkiratul Khawash, hal 183, cet. Farhad Mirza.
  28. al-Thabaqat, jil. V, hal 157, cet. Leiden.
  29. al-Luhuf, Ibn Thawus, hal. 128, cet. tahun 1317 H.
  30. al-Kafi, jil. VII, hal 56.
  31. al-Kamil, Ibnul Atsir, jil. IV, hal. 103.
  32. al-Bidayah wa al-Nihayah, Ibnu Katsir, jil. VIII, hal. 221, cet. pertama.
  33. al-Kamil, Ibnul Atsir, jil. IV, hal. 130.
  34. Tarikh al-Khulafa’, Suyuthi, hal 212, cet. tahun 1383 H.
  35. al-Kamil, Ibnul Atsir, jil. IV, hal 348 dan seterusnya.
  36. Ibid, jil. IV, hal. 521-522.
  37. Ibid, jil. IV, hal 587.
  38. al-Kafi, jil. V, hal 344.
  39. Tadzkiratul Khawash, hal 183.
  40. Tarikh al-Khulafa’, hal 224.
  41. Tarikh Thabari, jil. VIII, hal. 1178.
  42. al-Manaqib, Ibn Syahr Asyub, jil. III, hal. 311.
  43. al-Ihtijaj, Thabari, hal 171, cet. al-Najaf, th. 1350 H.
  44. Syarah Nahjul Balaghah, Ibnu Abil Hadid, jil. IV, hal. 104, cet. dua puluh jilid.
  45. Rijal Syaikh Thusi, hal. 81 dan seterusnya.
  46. Rijalul Kasyi, hal. 119, cet. Jamiah Masyhad.
  47. Ibid, hal. 485.
  48. al-Manaqib, Ibn Syahr Asyub, jil. III, hal. 311.
  49. Dia hendak menghinanya dengan perkataan itu.
  50. Rijalul Kasyi, hal. 119.
  51. al-An’am: 79.
  52. al-Baqarah: 115.
  53. Thaha: 55.
  54. Raudhatul Jannat–cetakan kedua (lama)–hal 310, secara ringkas.
  55. Rijalul Kasyi, hal 119.
  56. Silakan merujuk di akhir kitab Shahifah Sajjadiyah, cet. Akhundi.
  57. al-Dzari’ah, jil. XIII, hal. 345 dan seterusnya.
  58. al-Syura: 41.
  59. Manaqib Syahr Asyub, jil. III, hal 311.

 

More in this category: Imam Muhammad Baqir »

Al-Mu'ammal

Yayasan Al-Mu'ammal adalah Yayasan Islam yang bergerak di bidang dakwah dan penerbitan.

Yayasan AL-Mu'ammal berkomitmen memberikan kontribusi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa demi mencapai kemajuan dan kejayaan Indonesia yang bermartabat. Mencerahkan pemikiran keislaman dalam bingkai kebhinnekaan dan menjunjung tinggi perbedaan.

Statistik Pengunjung

026859
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Bulan Ini
Semua
41
236
846
2433
26859

Your IP: 54.167.29.208
2018-02-24 14:44

YAYASAN AL-MU'AMMAL

Jl. H.A Salim, Gg. VI No. 2, Pekalongan, Jawa Tengah.

Hp. 0859 5960 4020, Email. info@al-muammal.org