Saturday, 24 February 2018

Imam Muhammad Baqir

Sejarah 25 Juli 2017

 

IMAM KELIMA

IMAM MUHAMMAD AL-BAQIR

 

 

 Beliau adalah Abu Ja`far dan terkenal sebagai Pembawa Ilmu (Baqir al-Ulum) serta sebagai Imam Kelima. Lahir di Madinah pada Jumat pertama Bulan Rajab tahun ke-57 H,1 nama aslinya adalah Muhammad, panggilannya Abu Ja`far dan laqab-nya adalah Baqir al-Ulum. Beliau lahir dalam keadaan suci dan disucikan, diliputi oleh keagungan dan kebesaran (sebagaimana para imam lainnya).

Nasab Imam al-Baqir dari pihak ayah maupun ibu tersambung kepada Nabi saw, Ali as, dan al-Zahra as. Ayahnya adalah Imam Ali Zainal Abidin, putra Imam Husain. Ibunya adalah seorang wanita mulia bernama Ummu Abdullah,2 putri Imam Hasan al-Mujtaba as.

Keagungan Imam al-Baqir sangat masyhur, baik di kalangan khusus maupun masyarakat umum. Setiapkali orang berbicara tentang keagungan Bani Hasyim dan kelompok Aliwiyin serta Fathimiyin, beliau selalu beroleh perhatian-khusus. Sebab, beliau merupakan pewaris satu-satunya seluruh kesucian, keberanian, dan keagungan mereka. Beliaulah Hasyimi, Alawy, dan Fathimy bagi mereka.

Salah satu sifat-khusus beliau yang terkenal adalah kejujuran kata-katanya, pesona wajahnya, dan kemuliaan akhlaknya.

Sisi Lain Kedudukan dan Kebesarannya

Rasulullah saw bersabda kepada salah seorang sahabat-mulianya, Jabir bin Abdillah al-Anshari, “Hai Jabir, engkau akan hidup hingga masa putraku Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib as. Di dalam Taurat namanya disebut dengan al-Badir. Apabila itu terjadi (bertemu dengannya), sampikan salamku kepadanya.”

Benar, Rasulullah saw wafat, sementara Jabir masih berumur panjang. Suatu hari, Jabir masuk ke rumah Imam Ali Zainal Abidin as. Dia menyaksikan Imam al-Baqir yang saat itu masih kecil dan lucu. Jabir berkata kepadanya, “Menghadaplah.” Maka, anak itu pun menghadap. Ketika Jabir menyuruh berbalik, anak itu pun berbalik. Jabir terus memandangi dan memperhatikan cara berjalan serta gerak-geriknya. Jabir berkata, “Demi Allah, sungguh gerakannya menyerupai Nabi saw.”

Jabir kemudian menoleh kepada Imam al-Sajjad as dan bertanya, “Siapakah gerangan nama anak kecil ini?”

Imam menjawab, “Dia adalah putraku; dialah Imam setelahku (Muhammad al-Baqir).”

Jabir segera berdiri dan menciumi kedua kakinya seraya berkata, “Jiwaku sebagai tebusanmu, wahai putra Rasulullah saw. Terimalah salam ayahmu, Rasulullah saw. Beliau telah menitipkan salam kepadamu.”

Imam al-Baqir tak mampu menahan air matanya sembari berkata, “Salam sejahtera atas ayahku, Rasulullah saw, selama langit dan bumi masih tegak, dan juga salam atasmu, wahai Jabir, karena engkau telah menyampaikan salamnya kepadaku.3

Ilmunya

Seperti halnya para imam yang lain, Imam al-Baqir juga menimba ilmunya dari sumber wahyu, dan tak seorang pun pernah mengajari mereka. Para imam tidak pernah belajar dari seorang pun. Bahkan, Jabir bin Abdillah datang dan belajar kepadanya. Jabir berkata, “Wahai al-Baqir! Aku bersaksi bahwa engkau telah mendapatkan ilmu di masa engkau masih kecil.”4

Abdullah bin Atha’ al-Makki berkata, “Aku tak pernah menemukan ulama yang sangat hormat kepada seseorang, seperti ketundukan Hakam bin Utaibah kepada Imam al-Baqir. Dia bersikap seperti seorang anak di hadapan gurunya.”5 (Padahal, Hakam adalah orang yang sangat terhormat di hadapan semua orang).

Kebesaran pribadi dan ketinggian ilmunya telah membuat para pembesar hormat kepadanya, sehingga Jabir bin Yazid al-Ju`fi pernah berkata tentang Imam al-Baqir, “Aku telah diberitahu oleh washi (penerus) para washi dan pewaris ilmu-ilmu para nabi… Dialah Muhammad bin Ali bin Husain.”6

Seseorang bertanya kepada Abdullah bin Umar tentang suatu masalah, namun jawabannya telah membuat bingung orang itu. Kemudian, orang tersebut diperintahkan untuk mendatangi Imam al-Baqir seraya dikatakan kepadanya, “Bertanyalah kamu kepada anak ini dan beritahu aku jawabannya.” Orang itu lalu bertanya kepada Imam dan dijawab dengan jawaban yang memuaskan. Kemudian, jawaban tersebut disampaikan kepada Abdullah bin Umar. Abdullah berkata, “Sungguh mereka adalah Ahlul Bait yang ilmunya datang dari Allah.”7

Abu Bashir menukilkan:

Saya pernah menemani Imam al-Baqir masuk ke Masjid Madinah. Saat itu, banyak orang yang keluar-masuk masjid. Imam berkata kepada saya, “Tanyakan kepada mereka; apakah mereka melihatku?” Saya segera melakukan itu, dan setiapkali bertemu seseorang, saya bertanya kepada mereka, “Apakah engkau melihat Abu Ja`far.” Mereka selalu menjawab tidak. Padahal, Imam berdiri di sebelah saya, namun mereka tak melihatnya. Pada saat yang sama, datanglah Abu Harun, sahabat Imam yang sangat tulus; dia tampaknya melihat Imam. Imam berkata kepada saya, “Tanyai juga dia.” Saya pun bertanya kepada Abu Harun, “Apakah engkau melihat Abu Ja`far?” Abu Harun menjawab, “Tidakkah beliau berdiri di sebelahmu?” “Dari mana kau tahu?” tanya saya lagi. Dia menjawab, “Bagaimana aku tak melihatnya, sementara beliau adalah cahaya yang memancarkan sinarnya.”8

Abu Bashir juga meriwayatkan:

Imam al-Bagir bertanya kepada seseorang dari Afrika tentang pengikutnya yang bernama Rasyid. Orang itu menjawab, “Dia baik-baik saja dan mengirimkan salam kepadamu.” Imam menjawab, “Semoga Allah merahmatinya.” Orang itu terkejut dan bertanya, “Apakah dia telah meninggal?” Imam menjawab, “Benar.” Orang itu bertanya, “Kapan itu terjadi?” Imam menjawab, “Dua hari setelah engkau meninggalkannya.” Orang itu berkata, ”Sungguh, demi Allah, dia tak sedang sakit sama sekali.” Imam menjawab, “Apakah setiap orang yang meninggal harus disebabkan oleh sakit?”

Saat itu pula, Abu Bashir bertanya kepada Imam tentang pribadi orang yang meninggal itu. Imam menjawab, “Dia adalah salah seorang syiah kami dan pecinta kami. Apakah engkau mengira bahwa kami tak punya mata yang melihat dan telinga yang mendengar bersama kalian? Sungguh, prasangka yang sangat buruk. Demi Allah, tiada suatu apapun di antara perbuatan kalian yang tak tampak bagi kami. Ketahuilah, kami (selalu) bersama kalian. Oleh karena itu, biasakanlah diri kalian dengan perbuatan baik. Jadilah kalian orang-orang yang baik, hingga kalian dikenal dengan kebaikan, dan kebiakan itu menjadi ciri bagi kalian. Sungguh, aku memerintahkan kepada anak-anakku dan syiahku di jalan ini.”9

Seorang periwayat berkata:

Saya pernah tinggal di Kufah; sedang mengajarkan al-Quran kepada salah seorang wanita. Suatu hari, saya jatuh cinta kepadanya. Kemudian, saya ingin bertemu Imam al-Baqir. Ketika bertemu, beliau segera berkata kepada saya, ““Sesungguhnya, Allah tak membiarkan orang yang berbuat dosa, sekalipun dalam keadaan tersembunyi. Apa yang kau katakan kepada wanita itu?” Saya sembunyikan wajah saya karena malu dan saya bertaubat. Imam as berkata kepada saya, “Jangan kau ulangi lagi perbuatan seperti itu.”10


Akhlak Imam al-Baqir

Seorang penduduk Syam tinggal di Madinah dan sering datang ke rumah Imam as. Dia berkata kepada Imam, “Orang yang paling kubenci di muka bumi ini adalah engkau, dan aku tak pernah merasakan adanya rasa permusuhan kepada seseorang sekeras permusuhanku padamu dan keluargamu! Bahkan, aku berkeyakinan bahwa taat kepada Allah dan Nabi serta Amirul Mukminin takkan sempurna kecuali dengan memusuhimu. Apabila engkau melihatku berkali-kali datang ke rumahmu, itu karena engkau adalah seorang khatib (orator), berakhlak, dan memiliki keterangan (kata-kata) yang sangat indah!”

Kendati demikian, Imam as sangat iba kepada orang itu dan menjawabnya dengan penuh kelembutan dan kasih-sayang. Suatau hari, orang Syam itu jatuh sakit; tiada harapan untuk hidup. Dia berwasiat dan meminta, apabila dia mati nanti, biarlah Abu Ja`far Imam al-Baqir yang menyalati janazahnya.

Suatu saat, di tengah malam, keluarganya menemu-kan bahwa orang itu telah mati. Pagi harinya, orang yang mendapat wasiat pergi ke masjid dan melihat Imam al-Baqir telah selesai dari shalatnya. Beliau sedang duduk membaca ta`qib (amalan),11 dan itulah kebiasaan beliau. Pengemban amanat itu berkata kepada Imam, “Orang Syam itu telah bertemu Tuhannya dan berpesan agar Anda menyalati janazahnya.”

Imam as menjawab, “Dia belum mati. Jangan tergesa-gesa! Tunggu hingga aku datang kepadanya!”

Kemudian Imam berdiri dan memperbarui wudunya. Lalu, beliau melakukan shalat dua rakaat dan mengangkat tangannya sambil berdoa, lantas bersujud hingga mentari terbit. Selanjutnya, beliau berangkat menuju rumah orang Syam itu dan duduk di sebelah kepalanya sambil memanggilnya. Orang itu menjawab. Imam kemudian mendudukkan dan menyandarkan punggung orang itu ke dinding. Imam meminta air dan meminumkan kepadanya. Kepada keluarganya, Imam berkata, “Berilah makanan yang dingin.” Tak lama kemudian, orang yang sakit itu sadar kembali.

Tak berapa lama, kesehatan orang Syam itu pulih kembali. Dia lalu datang menemui Imam as sambil berkata, “Aku bersaksi bahwa engkau adalah Hujjah Allah atas seluruh manusia…”12

Muhammad bin al-Munkadar—tokoh sufi di masa itu—berkata, “Di musim panas yang luar biasa, saya keluar dari Madinah. Tiba-tiba, saya melihat Abu Ja`far bin Ali bin Husain as kembali ke kebunnya usai melakukan ziarah; ditemani dua orang sahabatnya. Dalam hati, saya berkata, ‘Seorang tokoh Qurays sedang sibuk mencari dunia di saat seperti ini! Aku harus menasihatinya.’ Saya lalu mendekati dan memberikan salam kepadanya. Imam menjawab salam saya dengan keras, sementara keringat mengalir dari kepala dan wajahnya. Saya berkata kepadanya, ‘Semoga Allah menyelamatkanmu. Pantaskah orang sepertimu bekerja keras mencari dunia di waktu seperti ini! Bagaimana posisimu jika tiba-tiba ajal datang menjemputmu pada saat kau seperti ini?’ Beliau menjawab, ‘Demi Allah, sekiranya Allah mengambil nyawaku dan aku berada dalam keadaan seperti ini, maka aku berada dalam ketaatan kepada Allah, karena dengan cara ini aku tak menggantungkan hidupku kepadamu dan kepada seluruh manusia. Sungguh, aku sangat takut apabila ajalku datang menjemputku, sementara aku tenggelam dalam kemaksiatan.’ Saya menjawab, ‘Semoga Allah merahmati Anda, saya pikir saya akan menasihati Anda. Akan tetapi, Andalah yang sedang menasihatiku dan menyadarkanku.’”13

Imam dan Bani Umayyah

Bagi imam as, baik bergaul dengan orang lain ataupun menyendiri dan duduk di rumahnya, tidak akan mempengaruhi ke-imamahan-nya sama sekali. Sebab, imamah tak ubahnya risalah. Ia merupakan ketentuan Ilahi. Manusia tak berhak memilih imam sesuai keinginan mereka.

Orang-orang yang zalim selalu melihat ketentuan Ilahi nan tinggi ini dengan matadengki dan iri. Mereka merampas kekuasaan dan khilafah—yang khusus milik para imam—dengan berbagai cara. Untuk meraih tujuan ini, mereka telah melakukan berbagai kekejaman.

Kepemimpinan Imam al-Baqir senantiasa dibuntuti oleh kekuasaan Hisyam bin Abdul Malik, penguasa Bani Umayyah, yang kejam. Bani Umayyah, termasuk Hisyam, tahu persis bahwa meskipun mereka berhasil merampas kedudukan lahiriah para imam dan mengendalikan kekuasaan dengan kezaliman serta kekejaman, namun tak mampu merampas kekuasaan para imam dari hati dan jiwa setiap orang.

Keagungan spiritual para imam sangat luar biasa, sehingga mampu menundukkan hati para musuh dan memaksanya merendah di hadapan mereka as.

Suatu tahun, Hisyam melakukan ibadah haji. Sementara, Imam al-Baqir disertai putranya, Imam al-Shadiq, juga termasuk di antara para jemaah haji tersebut. Suatu hari, Imam al-Shadiq as berceramah di tengah mereka, “Segala puji bagi Allah yang telah mengutus Muhammad saw dengan kebenaran dan memuliakan kami dengannya. Maka, kamilah orang-orang yang telah dipilih Allah di antara makhluk-Nya; kamilah khalifah-khalifah Allah di muka bumi. Sungguh beruntung orang yang mengikui kami dan sungguh merugi orang yang meninggalkan kami dan melakukan permusuhan terhadap kami.”

Imam al-Shadiq as menuturkan:

Mereka telah menceritakan ucapanku itu kepada Hisyam. Akan tetapi, Hisyam tak melakukan kejahatan apapun kepada kami, hingga dia pulang ke Damaskus dan kami pulang ke Madinah. Selanjutnya, Hisyam menyuruh Gubenur Madinah agar membawa kami; aku dan ayahku ke Damaskus.

Ketika kami tiba di Damaskus, Hisyam tak mengizinkan kami masuk hingga selama tiga hari. Pada hari keempat, kami diizinkan masuk dan Hisyam tengah duduk di atas singgasananya, sementara sahabat-sahabatnya sibuk bermain lempar-panah.

Hisyam lalu memanggil ayahku dengan menyebut nama dan berkata, “Ikutlah engkau dalam permainan panah ini bersama para pembesar sukumu.”

Ayahku menjawab, “Sekarang aku sudah cukup tua; masa untuk bermain panah sudah berlalu bagiku, maafkan aku.”

Hisyam memaksa dan bersumpah agar ikut bermain. Dia menyuruh orang tua dari Bani Umayah untuk menyerahkan busurnya. Ayahku menerima busur itu dan meletakkan anak-panahnya, lalu melepaskannya dan tepat mengenai sasaran. Ayahku menaruh anak-panah kedua dan melepaskannya; tepat mengenai anak-panah pertama hingga terbelah menjadi dua bagian. Demikian pula, ketika ayahku melakukannya dengan anak-panah ketiga; mengenai anak-panah kedua, dan yang keempat mengenai yang ketiga, dan yang kesembilan mengenai yang kedelapan. Suara teriak orang-orang yang hadir bergemuruh, Hisyam pun panik dan berteriak, “Ahsanta, ya Aba Ja`far (bagus, hai Abu Ja`far). Sungguh, engkau adalah sebaik-baik pemanah di kalangan Arab dan ‘ajam (non-Arab). Lalu, bagaimana engkau menganggap bahwa masa untuk bermain-panah telah berlalu?”

Pada saat itu pula, Hisyam mengambil keputusan untuk membunuh ayahku. Dia menundukkan kepalanya cukup lama untuk berpikir, sementara kami berdiri di hadapannya. Saat itu, ayahku marah. Apabila ayahku dibuat marah, ayahku (biasa) mengangkat kepalanya ke langit, hingga kemarahan itu tampak jelas sekali di (wajahnya). Hisyam sadar akan kemarahan ayahku. Dia lalu meminta kami untuk duduk. Hisyam berdiri dari tempat duduknya; merangkul ayahku dan duduk di sebelah kanannya. Kemudian, dia merangkulku dan menyuruhku duduk di sebelah kanan ayahku.

Hisyam berbicara kepada ayahku seraya berkata, “Orang-orang Qurays sungguh bangga denganmu atas Arab dan ‘ajam. Selamat bagi orang yang telah mengajarimu (tentang) ini. Berapa biaya yang kau keluarkan selama kau belajar memanah ini?”

Ayahku menjawab, “Kau tahu, penduduk Madinah memiliki hobi berlomba dan berlatih memanah, sementara aku telah berlatih sejak usiaku masih muda, kemudian aku telah meninggalkannya cukup lama, hingga kau memintaku sekarang ini.”

Hisyam bertanya, “Sejak aku menyaksikan para ahli memanah hingga sekarang, aku belum pernah melihat orang yang mahir dalam memanah dengan jeli dan tepat sasaran. Aku tak menduga, di muka bumi ini ada orang yang lebih baik darimu. Apakah putramu Ja`far juga pintar memanah sepertimu?”

Ayahku menjawab, “Kami mewarisi kesempurnaan (al-Kamal) dan kelengkapan (al-Tamam), seperti yang diturunkan Allah kepada Nabi-Nya saw, ketika berfirman: Hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu dan telah Aku lengkapkan atas kamu nikmat-Ku dan Aku ridha Islam sebagai agamamu.”14

Ini berarti, bumi takkan pernah kosong dari orang yang mampu melakukan perbuatan seperti ini secara sempurna.

Mendengar itu, kedua mata Hisyam terbelalak dan wajahnya pun merah karena marah. Dia menundukkan kepala, kemudian mengangkatnya kembali sambil berkata, “Tidakkah kami dan kamu adalah dari putra (Abdi Manaf); berarti kita sama dalam satu nasab?”

Imam menjawab, “Benar, tetapi Allah telah memberikan kelebihan khusus kepada kami yang tak diberikan-Nya kepada orang lain sama sekali.”


Pertanyaan Hisyam

“Tidakkah Allah mengutus seorang nabi yang berasal dari putra Abdi Manaf untuk seluruh manusia, yang berkulit hitam, putih, maupun yang berkulit merah? Lalu, dari mana kau mewarisi ilmu ini, sementara tiada nabi setelah Nabi Islam saw, dan kau sendiri juga bukan dari golongan para nabi?”

Imam menjawab, “Dalam al-Quran, Allah telah berbicara kepada Nabi saw dengan firman-Nya: Janganlah gerakkan lidahmu untuk (membaca) al-Quran karena hendak cepat-cepat mengusainya. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya di dalamnya dan membuatmu pandai membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu.15

“Ayat tersebut menjelaskan bahwa lisan Nabi saw senantiasa mengikuti Allah. Itulah pemberian yang diberikan Allah kepada kami dan tak pernah diberikan kepada orang lain. Dalam hal ini, Allah yang Mahaagung berfirman: Agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar.16

Rasulullah saw juga berkata kepada Ali as, “Sungguh, aku telah meminta kepada Allah agar menjadikan telingamu mau mendengar.” Ketika di Kufah, Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Sungguh Rasulullah telah membukakan kepadaku seribu pintu ilmu; masing-masing pintu bisa membuka seribu pintu yang lain.”

Sebagimana Allah telah memberikan kesempurnaan khusus kepada Nabi saw, maka Nabi saw juga memilih Ali as, yang diajarinya masalah-masalah yang tak diajarkan kepada orang lain. “Dan kami telah diajari dari sumber kebesaran itu, dan hanya kamilah yang mewarisinya, bukan orang lain.”

Hisyam berkata, “Sesungguhnya Ali mengaku mengetahui ilmu ghaib, padahal Allah tidak memberitahukan kepada seorangpun tentang keghaiban.”

Lalu, ayahku menjawab, “Allah telah menurunkan kitab kepada Nabi-Nya saw, yang menjelaskan segala sesuatu yang terkait tentang masa lalu maupun yang akan datang, hingga hari kiamat. Allah dalam kitab-Nya berfirman: Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab untuk menjelaskan segala sesuatu.17 Dalam ayat lain, Allah berfirman: Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab induk yang nyata (Lauh Mahfud).18 Allah juga berfirman: Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam al-Kitab.19

Allah telah menyuruh Nabi-Nya saw untuk mengajari Ali tentang semua rahasai al-Quran. Kepada umat, Nabi saw bersabda, “Ali adalah yang paling bijak di antara kamu.”

Sementara itu, Hisyam masih terdiam, dan Imam al-Baqir meninggalkan majlisnya.20

Imam Berargumentasi terhadap Penentangnya

Abdullah bin Nafi` adalah salah seorang di antara para penentang Amirul Mukminin Ali as. Dia pernah berkata, “Andaikata di muka bumi ini ada orang yang bisa membuktikan kepadaku bahwa dalam perang melawan (Khawarij Nahrawan) itu kebenaran berpihak kepada Ali, pasti akan kudatangi dia, sekalipun berada di ujung timur maupun di ujung barat.”

Ketika ditanya, “Apakah kau mengira bahwa putra-putra Ali as juga tak mampu membuktikan kebenaran itu kepadamu?” Dia menjawab, “Adakah putra-putra Ali yang alim?”

Orang-orang menjawab, “Inilah bukti kebodohanmu! Mungkinkah putra-putra Ali as menjadi orang bodoh?”

Dia bertanya, “Siapakah di antara putra Ali yang paling alim di masa ini?”

Mereka menunjuk Imam al-Baqir. Kemudian, Abdullah menuju Madinah bersama sahabat-sahabatnya dan meminta untuk bertemu Imam al-Baqir. Imam kemudian menyuruh salah seorang pembantunya untuk menemuinya dengan pesan, dia bisa bertemu Imam esok pagi.

Pagi harinya, Abdullah bersama sahabat-sahabat-nya datang ke majlis Imam. Sementara, Imam telah mengundang putra-putra dari keluarga Muhajirin dan Anshar. Ketika semua berkumpul, Imam mulai berbicara. Saat itu Imam tampil mengenakan pakaian berwarna agak kemerahan yang bercahaya, bagaikan rembulan. Beliau berkata, “Segala puji bagi Allah, pencipta waktu, tempat, dan bentuk. Segala puji bagi Allah yang tak pernah kantuk dan tidur, dan Dialah pemilik kerajaan langit dan bumi. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba-Nya yang terpilih dan nabi-Nya yang didekatkan. Segala puji bagi Allah yang telah memuliakan kami dengan kenabian-Nya dan mengistemewakan kami dengan wilayah (otoritas kepemimpinan)-Nya. Wahai putra-putra Muhajirin dan Anshar, siapakah di antara kalian yang ingat akan kemuliaan Ali bin Abi Thalib as, hendaknya menyebutkannya.”

Kemudian masing-masing yang hadir menyebutkan kemuliaan Ali bin Abi Thalib hingga sampailah pada kisah Perang Khaibar. Lalu, mereka berkata, “Sesungguhnya, di tengah perang melawan Yahudi Khaibar, Rasulullah bersabda, ‘Akan kuberikan panji peperangan ini esok pagi kepada orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya; Allah dan Rasul-Nya juga mencintainya. Dia akan terus maju melawan, pantang mundur meninggalkan medan, hingga Allah memberikan kemenangan di tangannya.’ Pada hari berikutnya, panji perang itu diserahkan kepada Amirul Mukminin Ali as. Dalam peperangan yang sangat dahsyat itu, Amirul Muminin berhasil memorak-porandakan (kaum) Yahudi dan menembus benteng mereka yang sangat kuat.”

Lalu, Imam al-Baqir menoleh kepada Abdullah bin Nafi` dan bertanya, “Apa komentar Anda tentang hadis ini?”

Abdullah menjawab, “Sungguh, hadis itu benar. Akan tetapi, setelah kejadian itu, Ali telah menjadi kafir dan membunuh orang-orang Khawarij tanpa alasan yang benar!”

Imam as menjawab, “Semoga ibumu membunuhmu! Ketika Allah mencintai Ali, tahukah Allah bahwa dia kelak akan memerangi Khawarij ataukah tidak? Jika kau berkata bahwa Allah tak tahu, maka engkau telah kafir.”

Abdullah menjawab, “Allah tahu itu!”

Imam as berkata, “Apakah Allah mencintai Ali karena ketaatannya kepada-Nya ataukah karena maksiat dan dosanya?”

Abdullah menjawab, “Allah mencintainya karena ketaatan Ali kepada-Nya (artinya, sekiranya Ali berpotensi berbuat dosa di masa yang akan datang, pasti Allah tahu dan tidak akan mencintainya. Dari sini dapat disimpulkan, perang melawan Khawarij adalah karena taat kepada perintah Allah).

Imam as berkata, “Berdirilah, engkau telah kalah dan kau tak punya jawaban.”

Kemudian, Abdullah berdiri sambil membaca ayat berikut: Hingga jelaslah benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.21 Ucapan ini menjelaskan bahwa kebenaran menjadi terang, bagaikan waktu pagi yang menyingsing. Abdullah juga berkata: Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan.22/23

Mencetak Uang Islam karena Perintah Imam al-Baqir

Pada abad pertama Hijriah, percetakan uang hanya terbatas yang dilakukan oleh Negara Romawi. Bahkan, orang-orang Nasrani Mesir mencetak uangnya dengan mengikuti cara Romawi dengan simbol kristennya: bapak, anak, dan ruh kudus.

Abdul Malik, penguasa bani Umayyah, adalah orang yang cerdik. Dia telah memerhatikan uang ini sedemikian rupa dan mempelajari simbol yang tertera di dalamnya, kemudian mengeluarkan mandat untuk menerjemahkan simbol tersebut ke dalam Bahasa Arab. Ketika mengetahui arti simbol tersebut, Abdul Malik marah atas tersebarnya uang itu di Mesir yang merupakan bagian dari Negara Islam. Abdul Malik segera menulis surat kepada Gubernur Mesir dan memerintahkan untuk mengganti uang itu dengan mengukir simbol Tauhid di atasnya: شهد الله انه لا اله الا هو) ) Allah bersaksi bahwasanya tiada Tuhan selain Dia.

Sejak itu, Abdul Malik menyuruh seluruh pejabat negara-negara Islam lainnya untuk mencetak uang dengan simbol tauhid tersebut, sehingga simbol-simbol kemusyrikan Kristen dari uang lama terhapus dan menggunakan uang baru.

Uang baru yang memuat simbul Tauhid Islam ini tersebar hingga ke negeri Romawi. Berita ini tercium oleh Kaisar Romawi yang kemudian menulis surat kepada Abdul Malik, “Pencetakan uang selamanya dengan simbol Negara Romawi. Apabila larangan yang kau keluarkan itu benar, itu berarti menandakan bahwa para khalifah Islam terdahulu telah melakukan kesalahan.25 Aku mengutus orang kepadamu dengan membawa hadiah yang cukup, dan aku minta engkau membiarkan transaksi perdagangan dengan tetap memuat simbol kami seperti semula. Dan atas sikapmu yang positif dalam menangani masalah ini, kami ucapkan terima kasih.”

Abdul Malik menolak hadiah itu dan berkata kepada utusan Kaisar Romawi, “Surat ini tak perlu dijawab.”

Untuk kedua kalinya, Kaisar Romawi berusaha memuaskan Abdul Malik dan menambahkan nilai hadiahnya, disertai surat yang menyatakan, “Kukira kau menolak hadiah karena kau melihatnya kecil. Kini hadiah itu kugandakan, dengan harapan engkau menerimanya, sekaligus menyetujui apa yang pernah kuajukan sebelumnya.”

Hadiah kedua itu juga dikembalikan oleh Abdul Malik tanpa jawaban. Ketika itu, Kaisar Romawi menulis surat kepada Abdul Malik, “Kau telah menolak hadiahku untuk kedua kalinya dan keinginanku tak kau penuhi. Kini, untuk yang ketiga kalinya kukirimkan hadiah yang lebih besar dari sebelumnya. Aku bersumpah, jika transaksi perdagangan yang bertandakan simbol kami tak kau kembalikan pada posisi semula, aku akan mengeluarkan perintah untuk mencetak uang emas dan perak yang mengandung ejekan terhadap Nabi Islam. Kau tahu persis, mencetak uang logam adalah keahlian kami orang Romawi. Ketika kau menyaksikan uang logam yang dipenuhi penghinaan terhadap nabimu, maka akan mengalir keringat dari wajahmu karena malu. Sebaiknya, kau terima hadiah ini dan wujudkan permintaan kami, agar hubungan persahabatan di antara kita tetap utuh seperti semula.”

Abdul Malik bingung untuk menjawabnya. Dia berkata, “Kukira, akulah orang yang bernasib buruk yang telah dilahirkan dalam Islam. Akulah yang menyebabkan masalah ini, yaitu ejekan terhadap Rasulullah saw.”

Kemudian, Abdul Malik bermusyawarah dengan kaum muslimin untuk mencari jalan keluar, namun tak seorang pun menemukannya. Salah seorang yang hadir dalam musyawarah itu berkata kepada Abdul Malik, “Sungguh, kau tahu orang yang bisa mengeluarkan kita dari jeratan ini, tetapi engkau sengaja mengelakannya.”

Abdul Malik bertanya, “Celaka kau, jalan apa yang kuketahui itu?”

Orang itu menjawab, “Kau harus minta penyelesaian problem ini kepada “Baqir” Ahlul Bait as.”

Abdul Malik memercayai ucapan orang itu dan menyuruh Gubernur Madinah, “Berangkatkanlah Imam al-Baqir ke Syam dalam keadaan terhormat dan mulia.” Sementara itu, utusan Kaisar Roma tetap tinggal di Syam hingga datangnya Imam. Mereka menceritakan masalah yang sedang dihadapi kepada Imam.

Imam lalu berkata, “Sungguh ancaman kaisar tentang masalah Nabi saw takkan pernah terlaksana. Allah takkan membiarkan kaisar melakukan perbuatan ini, dan jalan keluarnya juga mudah. Sekarang, kumpulkan para pengrajin (logam) dan perintahkan mereka membuat mata uang dengan salah satu sisinya ditulisi Surat Tauhid dan sisi lainnya dengan nama Nabi saw. Dengan demikian, kita tak lagi memerlukan uang Romawi.”

Selanjutnya, Abdul Malik mengeluarkan perintah untuk melaksanakan apa yang diucapkan Imam al-Baqir dan menulis surat kepada seluruh Negara Islam untuk membuat uang baru. Setiap orang yang menyimpan uang lama, hendaknya menyerahkannya kepada para petugas dan menggantikannya dengan uang baru Islam. Kemudian, utusan Kaisar Romawi itu pun pulang ke negaranya dengan membawa berita apa yang telah disaksikannya.

Kaisar pun diberitahu tentang apa yang telah terjadi di sana. Lalu, para pejabat kerajaan pun mengusulkan agar Sang Kaisar melaksanakan ancamannya, namun dia menjawab, “Sungguh, dengan ancaman ini, aku hendak membuat marah Abdul Malik. Adapun sekarang, melaksanakan ancaman itu takkan berguna sama sekali, karena Negara Islam dalam transaksi perdagangannya tak lagi menggunakan uang Romawi.”27


Sahabat-sahabat Imam al-Baqir

Banyak murid terkemuka telah dididik dalam madarasah Imam al-Baqir—semoga shalawat Allah dan malaikat-Nya terlimpah kepadanya. Secara singkat, kita akan menyebutkan beberapa nama, di antaranya:

  1. Aban bin Taghlib. Dia telah mengikuti ta`lim dari tiga imam; Imam Zainal Abidin, Imam Muhammad al-Baqir, dan Imam Ja`far al-Shadiq as. Aban adalah salah seorang tokoh ilmuan terkemuka di masanya. Dia mengusai ilmu tafsir, hadis, fikih, qira’ah, dan bahasa. Tingkat keilmuwannya mencapai taraf di mana Imam al-Baqir telah menyuruhnya untuk mengajar di Masjid Madinah dan memberikan fatwa kepada semua orang. Imam memberikan alasan kepada Aban dan berkata, “Aku ingin melihat orang sepertimu berada di tengah-tengah syiah kami.” Setiapkali Aban datang ke Madinah, berbagai majlis yang tersebar di mana-mana berkumpul di Masjid Madinah dan membiarkan mimbar yang pernah digunakan Rasulullah saw digunakan pula oleh Aban. Ketika berita kematian Aban sampai, Imam al-Shadiq as berkata, “Demi Allah, kematian Aban telah membuat hatiku sakit.”28
  2. Zararah. Ulama Syiah menganggap enam orang sebagai yang paling baik yang pernah dibina Imam al-Baqir dan Imam al-Shadiq as, dan Zararah adalah salah seorang di antara mereka. Imam al-Shadiq as berkata, “Sekiranya bukan karena Barid bin Yazid, Abu Bashir, Muhammad bin Muslim, dan Zararah, maka peninggalan-peninggalan kenabian pasti telah lenyap. Mereka adalah wakil-wakil Allah dalam hukum halal dan haram.” Beliau juga pernah berkata, “Barid, Zararah, Muhammad bin Muslim, dan Ahwal, merekalah orang-orang yang paling kucintai di masa mereka masih hidup dan ketika mereka mati.” Karena cinta Zararah kepada Imam sedemikian teguhnya, itu membuat Imam al-Shadiq as terpaksa berpura-pura mencelanya; demi menjaga hidup Zararah. Secara tersembunyi, Imam pernah menulis surat kepada Zararah, “Sungguh, aku sengaja mencelamu demi menjaga kelangsungan hidupmu. Para musuh telah bekerja keras untuk menyakiti orang-orang yang mencintai kami dan orang-orang yang berpegang-teguh kepada kami, sementara itu engkau adalah orang yang telah dikenal sebagai salah seorang pecinta kami. Oleh karena itu, aku terpaksa berpura-pura mencelamu.” Zararah sangat menguasai cara (metode) membaca, fikih, ilmu kalam, syair, dan sastra Arab. Tanda kemuliaan dirinya dan sifat agamisnya sangat kental sekali.29
  3. Al-Kummait al-Asadi. Dia terkenal sebagai penyair handal. Dengan kefasihan lisan dan keindahan susunan syairnya, dia selalu membela Ahlul Bait as. Syairnya dianggap mampu mematahkan serangan musuh dan mempermalukan mereka, sehingga berkali-kali beliau diancam akan dibunuh oleh para penguasa Bani Umayyah. Di masa itu, menyebut kebenaran, terutama membela Ahlul Bait Nabi saw, sangat berbahaya, sehingga nyaris tak ada yang berani melakukannya, kecuali pemberani. Sejak Bani Umayyah berkuasa, Kummait terkenal sebagai orang yang memiliki kepribadian kuat dan tak pernah takut pada kematian. Dengan segala kekuatannya, dia mengangkat suara kebenaran dan menjelaskan kepada semua orang tentang hakikat Bani Umayyah. Dalam sebagian syairnya, Kummait menjelaskan sifat para imam di hadapan Bani Umayyah sebagai berikut:

Pemimpin tak seperti yang kepemimpinannya dikenal banyak orang,

Baik dalam memimpin binatang piaraan sekalipun

Tak seperti budak sahaya, tak pula seperti Walid

Atau Sulaiman atau Hisyam

Sementara, dalam menjelaskan sifat penguasa Bani Umayyah, dia mengatakan:

Musibah menimpa orang saat kekuasaan dipegang dengan ucapannya

Dengan lisan, mereka menyalahkan ucapan nabi tatkala turun

Sementara perbuatan orang-orang jahiliah diperbuatnya

Kummait sangat mencintai Imam al-Baqir, sehingga lupa pada dirinya sendiri. Suatu hari, Kummait membacakan syairnya, yang disusun untuk memuji Imam as. Imam kemudian menuju Ka`bah dan berdoa tiga kali, “Ya Allah, rahmatilah Kummait.” Lalu beliau menoleh kepada Kummait seraya berkata, “Aku telah mengumpulkan seratus dirham dari Ahlul Bait untukmu.”

Kummait menjawab, “Demi Allah, saya tak butuh emas dan perak. Akan tetapi, yang saya butuhkan dari Anda adalah hendaknya Anda memberi saya salah satu dari pakaian Anda.” Imam kemudian memberikan pakaian beliau kepadanya.31 Suatu hari, Kummait duduk bersama Imam al-Baqir. Tiba-tiba Imam membaca sebait syair, mengeluhkan keadaan yang dihadapinya:

 

Pergi sudah mereka yang dibesarkan dalam lindungan mereka

Tiada yang tersisa kecuali pembenci atau penghasud

Kummait menjawab:

Dan tinggal satu yang tersisa di muka bumi ini

Itulah yang diharapkan, dan kamulah yang satu itu.32

  1. Muhammad bin Muslim. Dialah seorang fakih Ahlul Bait dan sahabat setia bagi dua imam; al-Baqir dan al-Shadiq as. Seperti kita sebutkan sebelumnya, Imam al-Shadiq menganggap Muhammad bin Muslim ini sebagai salah seorang dari empat orang yang mengabadikan peninggalan-peninggalan kenabian. Muhammad ini adalah penduduk Kufah yang datang ke Madinah untuk belajar dari Imam al-Baqir (sang lautan ilmu tanpa batas). Beliau tinggal di Madinah selama empat tahun untuk tujuan itu. Abdullah bin Ya`fur berkata, “Aku bercerita kepada Imam al-Shadiq as bahwa terkadang aku mendapat pertanyaan yang tak kuketahui jawabannya dan tiada jalan bagiku untuk datang kepada beliau. Lalu, apa yang harus kulakukan? Imam as lalu menunjukkan aku kepada Muhammad bin Muslim dan berkata, ‘Kenapa kau tik bertanya kepadanya..?’”33 Seorang wanita Kufah datang ke rumah Muhammad bin Muslim di tengah malam dan berkata, “Istri anakku telah meninggal, sementara di dalam perutnya terdapat janin (yang masih hidup). Apa yang harus kulakukan?” Muhammad bin Muslim menjawab, “Sesuai perintah Imam al-Baqir, harus dibelah perutnya dan anaknya dikeluarkan, kemudian mayatnya dikuburkan.” Muhammad bin Muslim menoleh ke arah wanita itu dan bertanya, “Siapakah yang menunjukkanmu untuk bertanya kepadaku?” Wanita itu menjawab, “Aku datang ke rumah Abu Hanifah untuk meminta fatwanya, namun dia tak bisa menjawab dan menyuruhku datang menemui Muhammad bin Muslim sambil berkata, ‘Jika Muhammad bin Muslim memberikan fatwa kepadamu, maka beritahulah aku jawabannya.’” Suatu hari, setelah kejadian itu berlalu, Muhammad bin Muslim melihat Abu Hanifah berada di masjid Kufah sedang membicarakan masalah itu dan berusaha mengakui jawaban itu dari dirinya sendiri. Lalu Muhammad bin Muslim berdehem untuk menegurnya. Abu Hanifah paham apa yang dimaksud. Muhammad bin Muslim menegurnya dan berkata, “Semoga Allah mengampunimu, kenapa kau tak membiarkan kami hidup?”34

Syahidnya Imam al-Bagir

Imam al-Baqir meninggal karena diracun, pada tanggal 7 Zulhijjah tahun 114 H, ketika berusia 57 tahun, di masa pemerintahan Hisyam bin Abdul Malik yang terkenal sebagai penjahat yang kejam.

Pada malam di mana beliau wafat, Imam al-Baqir berpesan kepada Imam al-Shadiq as, “Malam ini aku akan pergi meninggalkan dunia ini. Aku telah melihat ayahku sedang membawa minuman segar untukku dan aku meminumnya. Beliau menghiburku dengan tempat tinggal yang abadi dan bertemu Tuhan.”

Pada hari berikutnya, jasad suci lautan ilmu itu dikuburkan di Baqi`, bersebelahan dengan kuburan Imam Hasan dan Imam al-Sajjad as (semoga shalawat dan salam Allah tercurahkan kepadanya).35

Marilah kita duduk sejenak di pantai lauatan itu untuk merenungkan gelombang terakhir dari ilmunya as melalui kalimat-kalimat hikmahnya berikut ini:

“Kebohongan adalah penyakit iman.”36

“Seorang mukmin takkan menjadi penakut, tak rakus pada harta, dan tak pula kikir.”37

“Orang yang rakus pada dunia, ibarat ulat sutra; semakin bertambah benang yang melilit dirinya, semakin sulit dia keluar darinya..”38

“Berhati-hatilah kau mencela orang-orang mukmin.”39

“Cintailah saudara muslimmu, cintai untuknya apa yang kau cintai untuk dirimu sendiri. Bencilah untuknya apa yang kau benci untuk dirimu sendiri.”40

“Apabila seorang muslim datang ke rumah saudara muslim lainnya untuk mengunjunginya atau untuk meminta bantuan, sementara pemilik rumah berada di dalam dan tak mengizinkan tamunya masuk dan tak keluar untuk menemuinya, maka pemilik rumah ini akan menjadi tempat kutukan Allah hingga keduanya bertemu…”41

“Sesungguhnya Allah mencintai manusia yang punya sifat malu dan penyabar.”42

“Orang yang menahan marahnya kepada orang, maka Allah akan menahan siksa-Nya di hari kiamat.”43

“Sungguh celaka mereka yang menganggap Amar Ma`ruf dan Nahi Munkar sebagai perbuatan yang aib.”44

“Sesungguhnya Allah akan memusuhi hamba yang rumahnya dimasuki musuh, sedang dia tak bangkit melawannya.”45

 

 Catatan Akhir :

  1. Misbahul Mutahajjid, karya Syaikh Thusi, hal. 557
  2. Tentang Ummu Abdullah ini, Imam al-Shadiq as berkata, “Dialah salah satu wanita mukmin yang telah bertemu dengan kebaikan.” Tawarih al-Nabi, karya Tustari, hal. 47
  3. Amaliy, Syaikh Shoduq, hal. 211.
  4. `Ilal as-Syarai` karya Syaikh Shaduq, juz I, hal. 222 cet. Qum
  5. al-Irsyad, karya Syaikh Mufid, cet. Akhowandi, hal. 246
  6. Al-Irsyad karya Syaikh Mufid, cet. Akhowandi, hal. 246
  7. Al-Manaqib karya Ibnu Syahra Asywab, cet. Najaf, juz III, hal. 329
  8. Bihar al-Anwar juz ke-46, hal. 243 dinukil dari kitab Kharaij ar-Rawandi.
  9. Bihar al-Anwar juz ke-46, hal. 243 dinukil dari kitab Kharaij ar-Rawandi.
  10. Bihar al-Anwar juz ke-46 hal. 247 dinukil dari kitab Kharaij ar-Rawandi.
  11. Ta`qib adalah kumpulan doa dan zikir yang dibaca usai shalat secara langsung.
  12. Amali, Syaikh Thusi, hal 261.
  13. Al-Irsyad, karya Syaikh Mufid, hal. 247 cet. Al-Akhwandi
  14. al-Maidah: 3
  15. al-Qiyamah: 16
  16. al-Haqqah: 12
  17. al-Nahl: 89
  18. Yasin: 12
  19. al-An`am: 38
  20. Dalail al-Imamah karya Thabari as-Syi`i, hal. 104-109 cet. Najaf.
  21. al-Baqarah: 187
  22. al-An`am: 124
  23. Dinukil secara singkat dari al-Kafi juz ke-8, hal. 349
  24. Sebagian peneliti menisbatkan masalah ini kepada Imam al-Sajjad as. Sebagian lain mengatakan bahwa Imam al-Baqir sendiri yang mengusulkan dengan perintah Imam al-Sajjad as. Bagi yang hendak mengkaji secara luas, hendaknya merujuk al-Aqdu al-Munir juz ke-1.
  25. Dengan pengantar ini, Kaisar berupaya membangkit-kan fanatisme Abdul Malik untuk membenarkan perbuatan semua khalifah pendahulunya, lalu bagaimana tentang larangan mata uang Roma?
  26. Imam as berkata, “Hendaknya kau membuat tiga macam uang logam; yang pertama timbanglah setiap sepuluh dirham dengan sepuluh mitsqal. Jenis kedua; setiap sepuluh dirham dengan enam mitsqal. Jenis ketiga; setiap sepuluh dirham dengan nilai lima mitsqal. Dengan demikian, masing-masing terdiri dari tiga puluh dirham dari tiga jenis uang tersebut senilai duapuluh satu mistqal yang berarti sama dengan mata uang Romawi. Kaum muslimin diperintah untuk menyerahkan tiga puluh dirham Romawi yang nilainya dua puluh satu mistqal digantikan dengan tiga puluh dirham mata uang Islam yang baru.
  27. Al-Mahasin wa al-Musawi karya Baihaqi, juz II, hal. 232-236 cet Mesir. Haya al-hayawan karya Dumairi cet. al-Hajariyah hal 24. Kami nukil secara ringkas dan dalam bentuk maknanya. Catatan: telah kami lakukan penelitian bahwa kisah mata uang Islam ini telah dibuat dan berlaku di masa Imam al-Baqir karena usulan darinya. Dan ini tidak bertentangan dengan yang dimuat dalam sebagian kitab bahwa Imam Ali as telah menyuruh membuat mata uang Islam di Basrah, dan itu berarti pemula terjadinya kebangkitan ini. Sebab hal itu dapat kita gabungkan antara keduanya bahwa pembuatan mata uang Islam dimulai pada zaman Imam Ali as kemudian proses itu menjadi sempurna dan popular di zaman Imam al-Baqir. Bagi yang ingin mengkaji lebih luas masalah ini, hendaknya merujuk kitab Ghayat al-Ta`dil karya Sardar al-Kabily hal 16.
  28. Jami` al-Ruwat, juz 1 hal 9
  29. Jami` al-Ruwat, juz 1 hal 117 dan hal 324-325
  30. As-syiah wa Al-Hakimun, hal 128
  31. Safinat al-Bihar, juz 2 hal 496
  32. Muntaha al-Amal, cet tahun 1372 H juz 2 hal..7.
  33. Tuhfat al-Ahbab, karya Muhaddis Al-Qummi hal 351. Jami` ar-Euwat juz 2 hal 164.
  34. Rijal al-Kasyi, hal 162 cet. Universitas Masyhad.
  35. Dalam masalah ini, lihat kitab-kitab berikut: Al-Kafi juz 1 hal 469 dan juz 5 hal 117. Bashair al-Darajat hal 141 cet al-Hajariyah. Tawarikh an-Nabi karya Tustari hal 40. al-Anwar al-Bahiyah karya al-Muhaddis Qummi cet. al-Hajariyah hal 69
  36. Wasail Syiah, cet. Hajariyah, juz ke-2, hal 233 dan juz ke-6 hal 474
  37. Wasail Syiah, cet. Hajariyah, juz ke-2, hal 233 dan juz ke-6 hal 474
  38. Wasail Syiah, cet. Hajariyah, juz ke-2, hal 233 dan juz ke-6 hal 474
  39. Wasail Syiah, cet. Hajariyah, juz ke-2, hal 240
  40. Wasail Syiah, cet Hajariyah, juz ke-2, hal 233 hal 240
  41. Wasail Syiah, cet. Hajariyah, juz ke-2, hal 233 hal 229
  42. Wasail Syiah, cet. Hajariyah, juz ke-2, hal 233 hal 231
  43. Wasail Syiah, cet. Hajariyah, juz ke-2, hal 233 hal 455
  44. Wasail Syiah, cet. Hajariyah, juz ke-2, hal 233 hal 469
  45. Furu` al-Kafi, hal. 343

 

 

 

More in this category: « IMAM ALI ZAINAL ABIDIN

Al-Mu'ammal

Yayasan Al-Mu'ammal adalah Yayasan Islam yang bergerak di bidang dakwah dan penerbitan.

Yayasan AL-Mu'ammal berkomitmen memberikan kontribusi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa demi mencapai kemajuan dan kejayaan Indonesia yang bermartabat. Mencerahkan pemikiran keislaman dalam bingkai kebhinnekaan dan menjunjung tinggi perbedaan.

Statistik Pengunjung

026873
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Bulan Ini
Semua
55
236
860
2447
26873

Your IP: 54.167.29.208
2018-02-24 14:48

YAYASAN AL-MU'AMMAL

Jl. H.A Salim, Gg. VI No. 2, Pekalongan, Jawa Tengah.

Hp. 0859 5960 4020, Email. info@al-muammal.org